LombokPost-Pemprov NTB membeberkan tiga isu utama dalam skema rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade, Lombok Tengah.
“Fokus awal diprioritaskan pada pemulihan aktivitas ekonomi warga, penyelesaian master plan, hingga percepatan relokasi sementara serta pembenahan sistem mitigasi bencana,” jelas Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana sekaligus Koordinator Rekonstruksi Kampung Adat Sade Lalu Mohammad Faozal, Selasa (8/9).
Dalam waktu dekat, pembangunan museum Sade dan fasilitas ekonomi masyarakat segera dimulai. Fasilitas tersebut meliputi tempat usaha, area aktivitas ekonomi, tempat menenun, hingga toilet yang diharapkan dapat kembali menunjang kehidupan masyarakat Sade.
Selanjutnya, pemerintah juga tengah menyelesaikan master plan kawasan secara utuh. Perencanaan tersebut mencakup fasilitas umum maupun fasilitas pendukung lainnya.
Baca Juga: Menyingkap Makna Ritual Nyemulak di Desa Wisata Sade Lombok Tengah
Salah satu pembangunan yang akan segera dimulai, adalah Masjid Sade yang menjadi salah satu fasilitas utama di kawasan tersebut.
“Kita selesaikan sesegera mungkin master plan secara utuh,” jelas Asisten II Setda NTB tersebut.
Masjid Sade akan dibangun oleh MIM Foundation dari awal hingga selesai, termasuk fasilitas pendukungnya. Pembangunan museum akan mendapat dukungan dari PT Otsuka Indonesia, melalui program CSR.
“Di dalamnya ada perjalanan Sade before dan after (musibah, Red),” jelasnya
Kemudian Fasilitas penunjang aktivitas ekonomi juga mendapat dukungan dari PT Blue Bird. Sedangkan pembangunan toilet didukung PT Dharma Lautan Utama.
Ada pula dukungan dari donatur lainnya untuk sejumlah kebutuhan rekonstruksi lain.
Relokasi warga juga disiapkan sebagai salah satu opsi dalam proses rekonstruksi. Saat ini telah tersedia 40 unit rumah yang dibangun di 2018, di samping kantor Desa Rembitan.
Baca Juga: Dukung Pemulihan Desa Sade Pascakebakaran, IPI Tegaskan Identitas Budaya Sasak Harus Tetap Terjaga
Namun, kondisi rumah tersebut masih harus dipastikan kelayakannya sebelum digunakan. Pemerintah juga tengah merencanakan penambahan unit rumah.
Pemerintah masih melakukan pendekatan kepada masyarakat, agar bersedia menggunakan rumah tersebut untuk sementara.
Dalam proses rekonstruksi kawasan Sade, aspek mitigasi bencana juga mulai menjadi perhatian.
Desain bangunan tidak hanya mempertimbangkan fungsi dan kebutuhan masyarakat, tetapi juga keamanan instalasi serta sistem proteksi kebakaran.
Untuk perencanaan fisik dan aspek mitigasi bencana, Satgas menggandeng Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram).
“Sekarang sudah kita berpikir, bagaimana di rumah itu ada APAR, bagaimana di rumah itu instalasinya aman, listrik dan lain-lain,” ujarnya.
Ketua Tim Cepat Tanggap (TCT) Sade Unram Rini Srikus Saptaningtyas mengatakan, pihaknya mulai bergerak melakukan pemetaan. Juga survei dan dokumentasi sebagai bagian dari tahap awal penyusunan masterplan.
“Kegiatan itu melibatkan mahasiswa Unram dari bidang terkait dengan pendampingan dosen arsitektur dan planologi,” jelasnya.
Baca Juga: Desa Adat Sade Dibangun Lagi, Unram Siapkan Masterplan Pemulihan Pascakebakaran
“Pada saat yang sama, karakter, nilai budaya, serta kebutuhan masyarakat Sade harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan,” kata dia.
Editor : Rury Anjas AnditaSumber : Liputan