LombokPost-Program Desa Berdaya NTB Transformatif mengarahkan intervensi produktif sekitar Rp 23,92 miliar, untuk pengembangan usaha peternakan keluarga miskin ekstrem.
“Nilai tersebut berasal dari bantuan pengembangan usaha produktif sebesar Rp 7 juta untuk setiap keluarga,” tegas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhammad Riadi, Rabu (16/9).
Dari 5.162 keluarga miskin ekstrem yang memiliki usaha produktif di 40 desa sasaran, sebanyak 3.417 keluarga atau 66,20 persen memilih sektor peternakan.
Pilihan tersebut menunjukkan peternakan masih menjadi salah satu usaha yang dekat dengan keterampilan, dan sumber penghidupan masyarakat desa. “Program ini bertemu dengan potensi dan keterampilan yang memang telah tumbuh di desa,” ujarnya.
Adapun program Desa Berdaya Transformatif tidak membawa usaha yang asing bagi masyarakat. Tapi memperkuat kemampuan produktif yang telah mereka miliki. Agar berkembang menjadi sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Pencairan Anggaran Desa Berdaya Tematik Ditarget Tuntas September
Skemanya, bantuan diberikan dalam bentuk transfer aset untuk pengembangan usaha produktif. Khusus keluarga yang memilih peternakan, intervensi diarahkan terutama pada usaha unggas yang memiliki siklus produksi relatif pendek.
Komoditas yang dikembangkan meliputi ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung, dan itik. Usaha tersebut dipilih karena dapat dikelola pada skala rumah tangga dengan perputaran usaha yang lebih cepat.
“Selain menghasilkan pendapatan, peternakan unggas juga dapat mendukung ketersediaan pangan bergizi bagi keluarga,” tambah Riadi.
Besarnya intervensi pada sektor peternakan tidak hanya terlihat dari pilihan keluarga penerima bantuan. Sektor yang sama juga menjadi pilihan utama desa dalam skema Desa Berdaya NTB Tematik.
Sebanyak 146 desa atau 56,81 persen mengusulkan peternakan sebagai basis pengembangan ekonomi lokal. Angka itu dari 257 desa dan kelurahan yang mengusulkan program tematik pada 2026.
Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Titip Desa Berdaya dan Hutan NTB kepada Babinsa
Setiap desa yang ditetapkan sebagai penerima Desa Berdaya Tematik memperoleh Bantuan Keuangan Khusus sebesar Rp 300 juta.
Jika seluruh 146 desa pengusul peternakan memenuhi persyaratan dan ditetapkan sebagai penerima, potensi dukungan untuk tema tersebut mencapai Rp 43,8 miliar. “Namun tidak seluruh usulan langsung dinyatakan laik,” imbuhnya.
Berdasarkan hasil penilaian per 25 Juni, 85 desa telah direkomendasikan laik secara bertahap. Sedangkan 61 desa lainnya masih memerlukan penyempurnaan. Baik dari sisi administrasi maupun substansi proposal.
Proses tersebut mencakup kesiapan kelompok, potensi komoditas, rencana usaha, pasar, hingga kapasitas pengelolaan di tingkat desa.
Dengan demikian, bantuan tidak hanya diarahkan pada penambahan jumlah ternak, tetapi juga pada kesiapan usaha agar dapat berkembang.
Riadi menerangkan, pengembangan peternakan melalui Desa Berdaya juga perlu diikuti dukungan lain. Agar aset yang diberikan dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Dukungan tersebut meliputi pendampingan usaha, ketersediaan pakan, kesehatan dan biosekuriti ternak. Juga penguatan kelembagaan kelompok, akses pembiayaan, pengolahan hasil, serta kepastian pasar.
“Pengembangan usaha peternakan juga diarahkan, untuk memperkuat rantai ekonomi di desa,” ujarnya.
Baca Juga: Desa Berdaya Jadi Jalan UMKM NTB Tembus Pasar Global
Hasil peternakan seperti daging dan telur dapat menjadi sumber pendapatan keluarga, sekaligus memperkuat pasokan pangan lokal.
Di sisi lain, sektor pariwisata NTB membutuhkan pasokan daging, telur, dan produk olahan yang berkualitas dan tersedia secara konsisten.
Karena itu, pengembangan peternakan desa berpotensi dihubungkan dengan kebutuhan hotel, restoran, rumah makan, dan pelaku industri pariwisata. Namun, ukuran keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah ternak yang disalurkan.
Pemerintah juga menetapkan sejumlah indikator, antara lain peningkatan pendapatan keluarga penerima.
Lalu kelangsungan dan perkembangan usaha, pertumbuhan populasi serta produktivitas ternak, peningkatan produksi daging dan telur, keterhubungan kelompok dengan pasar. Serta jumlah keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem.
Baca Juga: Rp 35 Miliar Masuk APBD Perubahan untuk Program Desa Berdaya Transformatif
Menurutnya, Desa Berdaya NTB harus menjadi bukti bahwa peternakan dapat tumbuh sebagai economic engine dari desa.
Ketika keluarga miskin menjadi produktif, pangan lokal semakin kuat, dan hasil peternakan terserap oleh pasar serta sektor pariwisata, maka Triple Agenda bergerak dalam satu rantai pembangunan yang nyata.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMPD Dukcapil) Lalu Hamdi mengatakan, peternakan menjadi salah satu potensi ekonomi yang cukup besar di NTB.
“Dan memang potensinya cukup dikenal, familiar. Terlihat banyak dan sudah dilihat juga di lapangan,” jelas dia.
Menurutnya, peluang pengembangan peternakan semakin terbuka seiring kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan telur dan daging.
Baca Juga: Sebelum Manfaatkan Anggaran Desa Berdaya, Kades Diingatkan Revisi APBDes
Sehingga peluang itu mulai ditangkap oleh desa melalui program Desa Berdaya. “Itu salah satu yang jadi pendorong, ada peluang yang ditangkap,” ujarnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan