Kain Pesujudan Sasak Asal Bayan Dihibahkan Kolektor Australia ke Museum NTB

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 07:16 WIB
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam (tengah) memegang kain pesujudan khas masyarakat Sasak asal Bayan, Lombok Utara yang dihibahkan kolektor asal Australia, di Mataram, Rabu (16/9). (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam (tengah) memegang kain pesujudan khas masyarakat Sasak asal Bayan, Lombok Utara yang dihibahkan kolektor asal Australia, di Mataram, Rabu (16/9). (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost–Museum NTB menerima hibah kain pesujudan khas masyarakat Sasak asal Bayan, Lombok Utara, dari kolektor barang antik asal Australia, Michael Abbott.

Kain berukuran panjang 163 sentimeter dan lebar 40 sentimeter itu, diperkirakan dibuat pada kurun 1875–1925 Masehi. "Perkiraan kami di sekitar itu," terangnya, Rabu (16/9).

Penyerahan hibah berlangsung pada 11–12 September 2026 dalam rangkaian kegiatan di Art Gallery of South Australia (AGSA). Hibah tersebut diterima langsung Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, didampingi Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal dan Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda.

Baca Juga: Museum NTB Menenun Kembali Jiwa Sade yang Sempat Terbakar

Nuralam mengatakan, kain pesujudan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya penting bagi masyarakat Sasak, khususnya di wilayah Bayan.

Benda tersebut kini menjadi bagian dari koleksi Museum NTB, untuk dirawat dan disimpan sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Menurutnya, keputusan Michael Abbott menghibahkan koleksi pribadinya juga menunjukkan adanya kepercayaan terhadap museum sebagai institusi yang mampu merawat benda budaya secara baik.

"Ini kan koleksi pribadi ya dan biasanya dalam standar internasional kalau kolektor itu memberikan suatu kain, biasanya dia percaya kepada institusi tersebut," kata Ahmad.

Kepercayaan itu, lanjutnya, berkaitan dengan kemampuan institusi penerima dalam menjaga, merawat, sekaligus menyimpan koleksi tersebut.

Kolektor juga tetap memiliki kesempatan untuk melihat kembali benda yang pernah menjadi bagian dari koleksi pribadinya melalui museum.

"Bahwa institusi tersebut diyakini, diharapkan dan pasti bisa merawat dan menyimpan secara baik. Biasanya nanti kalau setelah dia disimpan, jadi yang memberikan hibah itu biasanya ingin melihat kainnya. Ya dia bisa mengakses koleksinya itu secara gampang, secara mudah ke museum," jelasnya.

Nuralam berharap hibah dari kolektor luar negeri tersebut dapat menjadi dorongan bagi masyarakat NTB untuk ikut menyelamatkan benda-benda budaya yang masih berada di tangan pribadi.

Baca Juga: Museum NTB Amankan Jejak Sejarah yang Tersisa Dari Kebakaran Desa Adat Sade

Karena menurutnya, tidak semua benda warisan budaya memiliki kondisi yang mudah dipertahankan oleh pemiliknya. Faktor usia, perawatan, hingga keterbatasan kemampuan menjaga koleksi dapat membuat benda budaya berisiko rusak.

Dengan masuknya kain pesujudan tersebut ke Museum NTB, koleksi itu tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dirawat.

"Ini menjadi bagian dari upaya menjaga jejak sejarah serta kebudayaan masyarakat Sasak," tandasnya.

Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin menjelaskan, kain pesujudan memiliki kaitan erat dengan perkembangan Islam di Lombok.

Pada awalnya, kain tersebut digunakan sebagai sejadah ketika Islam mulai masuk ke Lombok sekitar abad ke-16.

Seiring perkembangan budaya di Lombok dan terbentuknya komunitas adat, penggunaan kain persujudan kemudian semakin khusus. Kain tersebut digunakan oleh penghulu sebagai tokoh adat yang memiliki peran khusus di bidang agama.

"Ketika Islam pertama masuk ke abad 16, kemudian setelah perkembangan budaya di Lombok, kain ini digunakan hanya oleh seorang penghulu. Penghulu saja di seluruh Lombok," jelas Bunyamin.

Tradisi tersebut, kata dia, hingga kini masih dipertahankan di Bayan Timur atau Desa Bayan. Sementara di wilayah Sembalun, kain persujudan terakhir digunakan oleh penghulu sekitar 1980-an.

Baca Juga: Bahasa Sasak Mulai Jarang Digunakan Anak-anak

Cara penggunaannya pun memiliki makna tersendiri. Kain dapat disampirkan pada tubuh atau diikatkan di kepala. Penggunaan tersebut menjadi penanda status seseorang sebagai tokoh adat, khususnya dalam bidang keagamaan.

Bunyamin menerangkan, motif yang terdapat pada kain pesujudan juga menggambarkan proses islamisasi di Lombok. Salah satunya adalah motif perahu yang dimaknai sebagai simbol perjalanan para penyebar agama Islam menuju Lombok.

Pada motif perahu tersebut juga terdapat gambar ketupat. Berdasarkan penuturan masyarakat, ketupat dimaknai sebagai bekal yang dibawa dalam perjalanan menuju Lombok.

Selain perahu, terdapat motif manusia dengan sejumlah posisi yang menggambarkan gerakan dalam salat. Ada figur yang digambarkan dalam posisi berdiri, rukuk, hingga sujud.

"Motif-motif manusia ini adalah motif orang sedang posisi salat," kata Bunyamin.

Motif masjid juga ditemukan pada kain tersebut. Bunyamin menjelaskan, rangkaian motif itu dapat menggambarkan seseorang yang berada di dalam masjid dan sedang bersiap melaksanakan salat.

Baca Juga: Tradisi Nyemulak, Sade Bangkit Menjaga Warisan Sasak

Menurut Bunyamin, keberadaan kain pesujudan juga tidak terlepas dari nilai kesucian yang melekat pada benda tersebut. Karena itu, pembuatannya tidak dilakukan oleh sembarang orang.

"Karena yang membuat kain ini bukan orang sembarangan, jadi ada nilai kesucian, nilai filosofis, nilai budaya yang lainnya. Termasuk di fungsinya," tandasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
kain pesujudan australia bayan Sasak Museum NTB