Pagi tadi saya mendengar ceramah Ust Firanda Andirja di NUSA TV. Disebutkan wabah semacam korona ini pernah terjadi di Syam pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.
Ada satu cerita yang menarik bagi saya. Yakni ketika Gubernur Syam saat itu Abu Ubaidah bin Jarrah RA (salah satu dari 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijanjikan masuk surga), yang justru meminta agar diwafatkan oleh wabah tersebut karena menginginkan syahid. Akhirnya beliaupun meninggal akibat wabah tersebut.
Posisinya kemudian digantikan Muadz bin Jabal RA. Sama seperti Abu Ubaidah ra, Muadz bin Jabal Ra juga memohon sahid karena wabah tersebut. Bahkan doanya diumumkan ke masyarakatnya, dan berharap bukan hanya ia yang meninggal akibat wabah, tapi juga keluarganya. Keinginan itu pun terkabul.
Posisi Muadz kemudian digantikan Amru Bin Al-Ash RA. Namun Amru Bin Al-Ash memerintahkan warganya naik ke atas gunung di dalam kota Syam untuk menghindari wabah tersebut. Dan akhirnya wabah ini pun berangsur-angsur menghilang.
Saya tidak punya kapasitas menjadikan ini rujukan apakah kita boleh berdoa meminta mati sahid dengan cara terkena wabah semacam korona. Para ulama yang punya kapsitas dan kewenangan itu. Saya hanya meneruskan sebuah kisah sejarah. Dan mencoba belajar dari itu semua.
Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal boleh saja meminta sahid akibat wabah tersebut. Namun saya yakin mereka bukan pasrah, tapi tetap berusaha menghindari terjangkit wabah tersebut sembari mencegah penularan ke seluruh warga kota. Sama seperti keduanya dan para sahabat lainnya yang berdoa meminta sahid di medan perang, tapi tidak menyodorkan dirinya untuk ditombak musuh. Mereka tetap melawan dengan senjatanya, bahkan mengenakan pakaian zirrah.
Sedangkan Amru Bin Al-Ash, saya yakin tidak takut dengan wabah tersebut. Bahkan bisa saja beliau juga menginginkan kematian seperti dua sahabatnya itu. Tapi berusaha agar tidak terjangkit wabah, hukumnya wajib. Sehingga beliau memerintahkan warganya untuk menghindari wabah dengan cara naik ke atas gunung.
Tentunya, seperti kata Ust Firanda Andirja, mereka tetap berada di dalam kota Syam, yang merupakan epicentrum wabah. Karena Rasulullah SAW melarang kaum muslimin masuk atau keluar dari daerah wabah.
Iman saya hanya sebutir pasir bila dibanding iman Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal , di mana mereka justru meminta mati syahid dengan cara terjangkit wabah. Tapi kisah ini, sedikit menghilangkan kecemasan saya terhadap virus korona.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun mati akibat virus ini, syahid sudah menanti. Asalkan kita tidak menyongsongnya, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya.
Kini kekhawatiran saya adalah sampai menularkan virus ini ke orang lain. Bisa saja akibat kecerobohan saya, virus ini menjangkiti seorang ulama seperti Ust Firanda Andirja atau ulama-ulama lainnya.
Bisa jadi saya menjadi penyebab sakitnya seorang wali kota, gubernur, atau presiden yang saat ini menjadi panglima terdepan dalam memimpin negara ini dari serangan korona. Atau bisa saja saya menularkan wabah ini pada seorang perawat atau dokter yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa saudara-saudara kita yang lain.
Atau mungkin menularkan pada pak Ahmad, tukang sampah di kompleks rumah saya yg menjadi satu-satunya tulang punggung keluarganya. (*)
Editor : Administrator