Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Paradoks Pangan: Benarkah Sektor Pertanian Jadi Beban Lingkungan? Simak Ulasannya!  

Pujo Nugroho • Jumat, 8 Mei 2026 | 16:05 WIB
 
Lalu Mokh Reza Anshari, ST., M.Ling (ASN Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB)
Lalu Mokh Reza Anshari, ST., M.Ling (ASN Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB)
 

LombokPost - Ketahanan pangan sering kali dipahami secara sederhana, selama pangan tersedia, persoalan dianggap selesai. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Ketahanan pangan bukan sekadar soal banyaknya hasil panen atau tingginya produksi pertanian, melainkan tentang kemampuan sebuah daerah memastikan masyarakatnya memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan berkelanjutan.

Di sinilah kata berkelanjutan menjadi sangat penting. Sebab ketika berbicara tentang keberlanjutan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang lingkungan hidup.

Hubungan antara pertanian dan lingkungan adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Pertanian tidak mungkin tumbuh tanpa lingkungan yang sehat. Tanah yang subur, ketersediaan air yang memadai, udara yang bersih, stabilitas iklim, serta keseimbangan ekosistem merupakan fondasi utama bagi keberhasilan produksi pangan. Tanpa semua itu, lahan pertanian hanya menjadi hamparan tanah yang kehilangan daya hidupnya.

Namun pada saat yang sama, kita juga harus jujur bahwa aktivitas pertanian dapat menjadi sumber tekanan terhadap lingkungan jika tidak dikelola secara bijak. Di sinilah letak paradoks pembangunan pangan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, sektor pertanian dituntut menghasilkan lebih banyak, lebih cepat, dan lebih efisien.

Baca Juga: Satu Tahun, Pertanian NTB Bangkit dan Membuka Peluang Baru, Padi Melonjak, Jagung Tetap Tangguh

Dalam praktiknya, dorongan tersebut sering berujung pada penggunaan pupuk kimia secara intensif, pemakaian pestisida yang tinggi, eksploitasi sumber daya air yang besar, hingga perubahan pemanfaatan lahan yang tidak selalu sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Secara ilmiah, kondisi tersebut tentu memiliki konsekuensi. Penggunaan pupuk yang tidak terukur dapat memengaruhi kualitas air melalui limpasan ke sungai, embung, maupun air tanah. Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan biologis tanah.

Pengolahan lahan yang mengabaikan kaidah konservasi dapat mempercepat erosi dan sedimentasi. Bahkan dalam skala global, sistem pangan modern juga turut menjadi bagian dari tantangan perubahan iklim.

Namun mengakui adanya tekanan lingkungan dari sektor pertanian bukan berarti menempatkan pertanian sebagai pihak yang harus disalahkan. Kita juga harus melihat kenyataan yang sama pentingnya: pangan adalah kebutuhan dasar manusia.

Setiap hari masyarakat membutuhkan beras, jagung, sayuran, buah-buahan, protein hewani, dan berbagai sumber pangan lainnya. Tidak ada masyarakat yang dapat hidup hanya dengan wacana pelestarian lingkungan tanpa memastikan kebutuhan pangannya terpenuhi.

Baca Juga: Gubernur NTB Tegaskan Teknologi Jadi Kunci Pertanian Masa Depan

Karena itu, mempertentangkan lingkungan hidup dan pertanian adalah cara pandang yang keliru. Keduanya bukan dua kutub yang saling berlawanan. Sebaliknya, keduanya adalah dua pilar kehidupan yang saling membutuhkan. Lingkungan yang sehat adalah fondasi bagi pertanian yang kuat. Sebaliknya, pertanian yang dikelola dengan baik adalah bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Persoalannya bukan memilih salah satunya, melainkan bagaimana membangun keseimbangan di antara keduanya. Di sinilah paradigma pembangunan harus mulai bergeser.

Keberhasilan sektor pertanian tidak lagi cukup diukur hanya dari banyaknya hasil panen. Ukuran keberhasilan ke depan harus lebih cerdas: seberapa efisien air digunakan, seberapa sehat tanah dipertahankan, seberapa rendah tekanan terhadap lingkungan, dan seberapa kuat sistem pangan melindungi masyarakat dari kerentanan. Artinya, pembangunan pangan tidak bisa lagi hanya mengejar produktivitas jangka pendek. Ia harus bergerak menuju keberlanjutan.

Solusinya bukan menolak modernisasi pertanian. Justru sebaliknya, yang dibutuhkan adalah pertanian yang lebih modern, tetapi juga lebih cerdas secara ekologis.

Pemupukan harus berbasis kebutuhan tanah, bukan sekadar kebiasaan. Pengendalian hama harus lebih mengedepankan pendekatan terpadu, bukan ketergantungan penuh pada bahan kimia. Penggunaan air harus semakin efisien melalui inovasi teknologi, pengelolaan irigasi yang baik, dan pola tanam yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Di saat yang sama, pemulihan bahan organik tanah harus menjadi perhatian, daerah tangkapan air harus dijaga, dan alih fungsi lahan produktif harus dikendalikan.

Baca Juga: Dinas Pertanian dan Perkebunan Matangkan Desain Oplah Lobar Yang Dalam Pembahasan Teknis dan Komprehensif

Yang tidak kalah penting, pembangunan pertanian, pengelolaan lingkungan hidup, tata ruang, sumber daya air, dan kebijakan pangan tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Semua harus bergerak dalam satu orkestrasi pembangunan yang saling mendukung.

Bagi daerah seperti NTB, isu ini memiliki arti yang sangat strategis. Sebagai daerah agraris yang menjadi salah satu penyangga pangan nasional, NTB memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan. Di saat yang sama, NTB juga menghadapi tantangan nyata berupa perubahan iklim, dinamika ketersediaan air, perubahan penggunaan lahan, serta kebutuhan menjaga stabilitas pangan bagi masyarakat.

Namun di balik seluruh tantangan itu, alasan untuk optimistis tetap sangat besar. Petani kita telah lama membuktikan ketangguhannya menghadapi berbagai tekanan zaman. Teknologi pertanian terus berkembang. Kesadaran akan pentingnya pembangunan berkelanjutan juga semakin menguat.

Artinya, kita memiliki modal yang cukup untuk membangun arah baru. Masa depan tidak menuntut kita memilih antara pangan atau lingkungan. Masa depan justru menuntut kita menjaga keduanya secara bersamaan. Karena pangan yang kuat hanya dapat tumbuh dari lingkungan yang sehat. Dan lingkungan yang sehat akan menemukan maknanya ketika mampu menopang kehidupan masyarakat.

Jika keseimbangan itu dapat dijaga, maka NTB tidak hanya akan dikenal sebagai daerah penghasil pangan, tetapi juga sebagai contoh bagaimana pembangunan, lingkungan, dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan. Dan itulah masa depan yang layak kita perjuangkan bersama.

 

Editor : Pujo Nugroho
#Pertanian Modern #Ketahanan Pangan #Berita NTB #lingkungan hidup #NTB