Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Outbreak Hantavirus: Alarm Baru Kesehatan Maritim Global

Kimda Farida • Jumat, 8 Mei 2026 | 17:49 WIB
dr. I D A Risna Jayanthi
dr. I D A Risna Jayanthi

 

oleh: dr. I D A Risna Jayanthi

(Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram)

 

LombokPost-- Kasus hantavirus saat ini menjadi perhatian dunia internasional setelah muncul klaster penyakit saluran napas akut berat di kapal pesiar berbendera Belanda MV Hondius yang berlayar dari Argentina melintasi Atlantik Selatan.

Hingga 7 Mei 2026, dilaporkan terdapat sekitar tujuh kasus terkait dengan tiga kematian dan beberapa pasien dalam kondisi kritis.

Kapal yang membawa 147 orang dari 23 kewarganegaraan tersebut sempat tertahan di sekitar Cape Verde sebelum diarahkan menuju Canary Islands untuk penanganan lebih lanjut.

World Health Organization (WHO) bersama otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan kontak lintas negara terhadap penumpang dan kru yang berpotensi terpapar.

Kasus ini menjadi sorotan karena berkaitan langsung dengan International Health Regulations (IHR) 2005, yaitu peraturan kesehatan internasional yang mengatur kerja sama antarnegara dalam menghadapi ancaman penyakit lintas batas.

Baca Juga: Prestasi Warnai Pisah Kenang MAN 1 Mataram, Lulusan Tembus FK hingga PTN Bergengsi

Kejadian MV Hondius menunjukkan bagaimana penyakit infeksi di kapal dapat dengan cepat berkembang menjadi isu kesehatan global, terutama pada transportasi internasional dengan mobilitas tinggi dan penumpang multinasional.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan rodensia lainnya.

Penularan umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol (partikel udara) yang berasal dari urin, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi.

Virus ini dapat menyerang pembuluh darah kecil serta organ vital seperti paru dan ginjal. Pada kasus berat dapat terjadi kebocoran pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan cairan di paru hingga gagal napas berat.

Masa inkubasi hantavirus juga cukup panjang, yaitu sekitar 7 hari hingga 6 minggu, sehingga seseorang dapat tampak sehat sebelum akhirnya mengalami gejala penyakit.

WHO menyebutkan hasil awal pemeriksaan laboratorium mengarah pada Andes virus strain, yaitu jenis hantavirus asal Amerika Selatan yang cukup unik dan berbahaya.

Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki angka kematian tinggi, serta merupakan satu-satunya hantavirus yang hingga saat ini terbukti dapat menular antar manusia secara terbatas.

Penularan antarmanusia diduga dapat terjadi melalui kontak erat berkepanjangan atau paparan sekret saluran napas, meskipun tidak semudah penularan COVID-19 atau virus influenza lainnya.

Baca Juga: Lorong Pendidikan SMAN 8 Mataram Disulap Jadi Galeri Seni Karya Siswa

Dalam perspektif kesehatan maritim internasional, kasus MV Hondius menjadi contoh penting mengenai outbreak penyakit infeksi di kapal pesiar.

Lingkungan kapal memiliki beberapa faktor risiko penyebaran penyakit, seperti ventilasi tertutup, interaksi dekat berkepanjangan, penggunaan fasilitas bersama, serta keterlambatan diagnosis ketika kapal berada jauh dari fasilitas kesehatan daratan.

Situasi ini berkaitan erat dengan kesiapsiagaan pelabuhan, koordinasi kesehatan kapal dan fasilitas kesehatan di daratan, sistem karantina, serta surveilans penyakit lintas negara.

Gejala yang dilaporkan pada kasus MV Hondius konsisten dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome.

Pada fase awal, pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, lemas berat, sakit kepala, mual, hingga diare sehingga sering menyerupai flu biasa.

Namun kondisi dapat memburuk secara cepat menjadi penumpukan cairan di paru, kekurangan oksigen dalam darah, gagal napas berat, hingga syok. Andes hantavirus sendiri memiliki angka kematian sekitar 30–40% pada kasus berat.

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus spesifik sehingga penanganan masih berfokus pada terapi suportif intensif seperti bantuan oksigen, ventilator, dan perawatan ICU.

Meskipun Andes hantavirus dapat menyebabkan penyakit berat, WHO hingga saat ini masih menilai risiko penyebaran luas ke masyarakat relatif rendah karena penularan antarmanusia umumnya memerlukan kontak erat berkepanjangan.

Baca Juga: Warga Minta Kejelasan Harga Ganti Rugi Lahan Sebelum Tandatangan Penlok

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Namun kewaspadaan tetap penting, terutama melalui penerapan perilaku hidup bersih dan pencegahan paparan rodensia.

Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menghindari kontak dengan urin atau kotoran tikus, tidak menyapu debu kering pada area yang dicurigai terkontaminasi, serta memastikan ventilasi ruangan yang baik.

Pada situasi berisiko, penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area tercemar juga dianjurkan.

WHO juga menekankan pentingnya pemantauan gejala secara aktif, terutama pada individu yang memiliki riwayat perjalanan dari wilayah endemis atau kontak dengan lingkungan berisiko.

Apabila muncul gejala seperti demam, nyeri otot, sesak napas, atau gangguan pernapasan berat, pasien perlu segera mendapatkan evaluasi medis dan penanganan sedini mungkin karena kondisi dapat memburuk secara cepat.

Deteksi dini, isolasi kasus suspek, penerapan pengendalian infeksi, serta komunikasi risiko yang jelas dan tidak menimbulkan kepanikan menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit.

Kasus MV Hondius menjadi pengingat bahwa dunia modern masih sangat rentan terhadap penyakit emerging dan zoonosis baru.

Di era mobilitas global yang sangat cepat, kesiapsiagaan pelabuhan, sanitasi kapal, sistem surveilans kesehatan internasional, serta edukasi masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah ancaman kesehatan global yang lebih luas.

Editor : Kimda Farida
#hantavirus