LombokPost - Bulan Juli adalah bulannya mangrove, tepatnya tanggal 26 Juli diperingati sebagai hari mangrove sedunia. Baru-baru ini di Provinsi NTB dilaksanakan beberapa giat terkait hari mangrove antara lain restorasi hutan melalui penanaman mangrove bersama masyarakat dihadiri Menteri LH bertempat di Sumbawa, selanjutnya diikuti dengan penanaman dan giat lainnya di berbagai tempat, baik oleh pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pihak peduli lainnya sebagai giat yang patut diapresiasi.
Bicara mangrove ada beberapa sisi yang belum banyak disentuh dan cenderung terabaikan yaitu non timber forest product atau biasa disebut hasil hutan bukan kayu disingkat HHBK, disamping manfaat lainnya berupa karbon dan jasa wisata alam. HHBK mangrove bila dikelola dengan baik berpotensi menjadi sumber pangan baru yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Selama pohon mangrove tetap terjaga, produksi buah mangrove sebagai sumber penghasil pati/tepung dapat dipanen secara terus menerus.
Mangrove atau yang lebih dikenal dengan sebutan pohon bakau, selama ini dilihat dari manfaat kayunya saja. Kayu mangrove diambil sebagai kayu bakar untuk memasak, omprongan tembakau atau untuk pembakaran pada proses amalgamasi di tambang rakyat. Kayu bakau yang agak besar dipakai untuk membuat lunas perahu, kusen dan perabot rumah tangga hingga pembuatan kerajinan souvenir dan barang seni lainnya, eksploitasi kayu bakau ini menjadi salah satu penyebab ekosistem mangrove di alam banyak mengalami tekanan, hutan mangrove banyak yang rusak akibat kayunya diambil secara illegal. Selain itu tutupan hutan mangrove banyak dibuka dan dibabat atas nama alih fungsi lahan, padahal keberadaan mangrove justru sebagai benteng terdepan untuk melindungi kehidupan daratan dari hempasan gelombang, abrasi, badai hingga tsunami serta bencana alam lainnya.
Baca Juga: Karbon Biru yang Terabaikan: Lamun, Mangrove, dan Utang Ekologi Pesisir Indonesia
Mangrove untuk Ketahanan Pangan
Ekosistem mangrove sangat layak diperhitungkan bagi ketahanan pangan masyarakat. Seiring meningkatnya populasi manusia, kebutuhan pangan semakin meningkat, sementara ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas, daya beli menurun, maka perlu mencari sumber baru untuk dapat mencukupi kebutuhan pangan tersebut. Selain itu pengembangan teknologi pengolahan pangan melalui hilirisasi baik dari skala kecil hingga skala besar harus dapat mendukung produktivitas maupun keanekaragaman pangan agar terus bisa memenuhi permintaan pasar dari segi kuantitas, kualitas serta kontinuitas.
Hutan mangrove bisa menjadi sumber pangan potensial baik berupa sumber pangan hewani melalui budidaya perikanan di hutan mangrove dengan sistem Sylvofishery maupun sumber pangan nabati dari produksi olahan buah tanaman mangrove itu sendiri.
Baca Juga: Ekowisata Mangrove Paremas Disiapkan Jadi Ikon Baru Wisata NTB
Potensi Pangan Hewani. Ekosistem mangrove adalah habitat yang sangat baik bagi ikan kepiting dan udang. Budidaya ikan kepiting dan udang dengan sistem lorong pada hutan mangrove dengan pola Sylvofishery/wanamina, menghasilkan rata-rata 1.500 kg hingga 2.000 kg (1,5 - 2 ton) per hektare per tahun. Belum termasuk hasil ikutan dari jenis lainnya seperti molusca antara lain kerang, siput yang bisa menjadi sumber protein bernilai ekonomi tinggi.
Potensi Pangan Nabati. Tanaman mangrove sendiri merupakan sumber pangan yang tak ternilai. Bagian tanaman mangrove seperti buah bogem dan buah lindur bisa diolah menjadi tepung, mi, makanan kering maupun basah, sirup dan sabun pembersih, sementara bagian lainnya seperti akar dan daun dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Di daerah Pantura Pulau Jawa sudah banyak dijual berbagai produk olahan mangrove yang diproduksi oleh kelompok-kelompok UKM setempat.
Sejatinya buah mangrove adalah sumber pati/karbohidrat yang potensial menjadi sumber pangan pengganti terigu maupun tepung lainnya. Buah mangrove yang biasanya dijadikan tepung adalah dari jenis Api-api/bogem (Sonneratia alba), dan Lindur (Bruguiera gymnorrhiza).
Baca Juga: Mangrove NTB Kritis, Unram Terapkan Rehabilitasi Berbasis Sains
Berbagai jenis olahan makanan yang berbahan dasar tepung seperti kue basah, kue kering, mie, kerupuk, cendol dan lain sebagainya dapat dibuat dari tepung mangrove. Kuncinya adalah pada teknik pengolahan dari buah menjadi tepung. Tepung harus dibersihkan dari tanin dan HCN agar dapat dikonsumsi menjadi pangan yang aman dan sehat mengingat tanin dan HCN pada kadar tertentu dapat berbahaya bagi kesehatan.
Cara sederhana menghilangkan tanin dan HCN pada buah mangrove adalah sebagai berikut: buah yang telah matang dikupas dan dipotong-potong, kemudian direndam dengan air dan potongan arang selama 1 hari lalu bilas sampai bersih, rendam lagi dengan air selama 1 hari, bilas, rendam air ulangi hingga 4-5 hari, setelah itu direbus, dikeringkan, dan digiling halus menjadi tepung. Selanjutnya tepung siap diolah menjadi makanan apa saja. Proses ini sedikit merepotkan dan makan waktu tetapi bersifat padat karya sehingga cocok untuk kegiatan skala UKM. Untuk skala besar melalui teknologi industri pengolahan, prosesnya lebih singkat dengan kapasitas produksi jauh lebih besar dan tingkat rendemen yang tinggi, namun perlu investasi.
Berdasarkan penelitian dari IPB bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Provinsi NTT bahwa kandungan energi buah mangrove adalah 317 kalori/100gr atau lebih tinggi dari beras (360 kalori/100gr) dan jagung (307kalori/100gr). Kandungan karbohidrat buah mangrove sebesar 85,1 gr/100gr, lebih tinggi dari beras (78,9 gr/100gr) dan jagung (63,6 gr/100gr) (Fortuna, 2005).
Pohon mangrove umumnya berbuah 1-2 kali per tahun, dengan produksi rata-rata 300 kg per hektar. Dengan rendemen sekitar 15%-28%, maka dari 100 kg buah mentah akan diperoleh tepung sebanyak 15 kg-28 kg. Jadi jumlah tepung yang dapat dihasilkan dari sekali panen buah mangrove per hektare adalah sekitar 45 kg-84 kg. Melalui pendekatan nilai omset usaha olahan buah mangrove di kelompok UKM dapat ditaksir nilai ekonomi tanaman mangrove per hektar. Jika dalam memproduksi 1 jenis olahan makanan digunakan 5kg tepung mangrove yang dapat menghasilkan 30-50 kemasan (tergantung jenis produk), maka dari 1 hektare tanaman mangrove dapat dibuat 9-19 aneka jenis olahan makanan dengan hasil produksi antara 270-1140 kemasan. Nilai omset yang diperoleh dari satu hektar tanaman mangrove tinggal dikalikan dengan harga produk per kemasannya. Apabila jumlah luasan mangrove yang dikelola sebanyak 100 hektar bisa dihitung nilai omset totalnya.
Mangrove untuk Ketahanan Iklim
Di tingkat global isu mangrove semakin mengemuka dengan potensi karbonnya yang begitu penting dan signifikan bagi alam. Dalam beberapa studi disebutkan bahwa hutan mangrove memiliki potensi karbon 4-5 kali hutan tropis dataran tinggi per hektar. Mulai dari daun, buah, ranting, batang, akar hingga substrat lumpur media tumbuhnya kaya akan karbon dalam bentuk biomasa.
Potensi karbon sekarang ini bisa diperdagangkan melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Pelaksanaannya menggunakan dua mekanisme: Perdagangan Emisi (cap-and-trade untuk batas atas emisi) dan Offset Emisi (kompensasi/kredit) dalam bursa karbon resmi dalam pengawasan OJK. Perdagangan karbon sektor kehutanan dan lahan termasuk mangrove menjadi komitmen FOLU Net Sink 2030. Ketentuan pelaksanaannya berdasarkan Permen LHK No.7/2023 yang diperbarui dengan Permen Kehutanan No. 6 Tahun 2026 tentang tata cara perdagangan karbon melalui offset emisi.
Di satu sisi mangrove merupakan ekosistem yang rentan karena letaknya paling luar dan menjadi front penjaga pertahanan pulau dan daratan. Selain itu pertumbuhan tanaman mangrove cukup lambat dan permudaannya relatif sulit dibanding tanaman lain karena dipengaruhi salinitas dan pasang surut air laut. Dengan demikian setiap kerusakan atau deforestasi yang terjadi memerlukan effort waktu biaya dan tenaga yang relatif lebih besar untuk merestorasinya. Di sisi lain ada benturan dengan kebutuhan lain seperti pelabuhan, di mana substrat lumpur sebagai media tumbuh mangrove justru menjadi kedala yang tidak disukai, biasanya diatasi dengan melakukan normalisasi atau pengerukan lumpur di sekitar dermaga. Namun dari semua itu ancaman terbesarnya selalu adalah alih fungsi lahan.
Seiring waktu, luas ekosistem mangrove terus mengalami penurunan. Laju deforestasi mangrove Indonesia rata-rata 26.121 hektare/tahun, dan dua per tiganya akibat konversi lahan. Ini menjadi ancaman serius jika laju kerusakan tidak diimbangi dengan upaya rehabilitasi yang memadai maka lambat laun ekosistem ini akan habis. Deforestasi mangrove harus diminimalisir bahkan dihentikan, dan upaya pengarusutamaan mangrove perlu digaungkan di semua lini agar menjadi konsern semua pihak.
Potensi Mangrove NTB
Potensi ekosistem mangrove di Provinsi NTB adalah seluas 11.553,01 Ha (Dinas LHK Provinsi NTB, 2026), didominasi oleh kelas kerapatan tajuk yang rapat sekitar 81,73%, mengindikasikan tanaman yang mapan atau dewasa secara ekologis, serta produktif menghasilkan buah.
Sebarannya di Pulau Lombok meliputi Gili Meno-Air-Trawangan (KLU), Lembar-Sekotong (Lombok Barat), Gerupuk-Mertak-Teluk Awang (Lombok Tengah), Teluk Ekas-Seriwe Jerowaru, Gili Sulat Gili Lawang, Gili Petagan, Sambelia (Lombok Timur),
Sedangkan di Pulau Sumbawa sebarannya meliputi Gili Balu, Poto Tano, Taliwang, Sekongkang (KSB), Lape-TelukSantong-Tarano, Pulau Panjang-Saringi-Medang, pesisir barat Alas-Buer-Utan-Badas, Moyo Utara, Lunyuk (Sumbawa), Kempo-Pekat, Teluk Cempi (Dompu), Teluk Bima, Teluk Waworada, Teluk Sape (Bima).
Berdasarkan luasan tersebut ditambah kondisi tanaman yang sudah produktif dan lokasi yang tersebar di hampir seluruh daerah pesisir dari ujung barat ke ujung timur, utara dan selatan, ini bisa menjadi modal yang kuat untuk membangun ketahanan pangan bagi masyarakat NTB sekaligus menjadi benteng ketahanan iklim di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, namun tentunya harus dilandasi oleh komitmen dan sinergitas yang kuat dari semua pihak.
Selamat Hari Mangrove Sedunia, 26 Juli 2026. (Baiq Sri Wahyu Hidayati, S.Hut, M.Si, Fungsional PEH Ahli Muda pada Dinas LHK Provinsi NTB)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post