Diketahui, RPS jurusan Tata Boga milik SMKN 4 Mataram dibangun, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan Tahun 2022, dengan total anggaran mencapai Rp 1,18 miliar. Rinciannya, Rp 1,09 miliar untuk bangunan fisik, dan Rp 150 juta untuk meubeler. RPS tersebut berada di halaman depan SMKN 4 Mataram menempati area seluas 300 meter persegi.
Kehadiran sarana praktik tersebut, menjadi motivasi bagi sekolah untuk lebih gencar mengembangkan pembelajaran teaching factory, ini merupakan model pembelajaran di SMK berbasis produksi atau jasa, yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dunia kerja (Iduka), dan dilaksanakan dalam suasana yang juga diterapkan di Iduka.
“Ini karena nuansa RPS dari DAK sebelumnya, jauh berbeda jika kita bandingkan dengan DAK Tahun 2022,” ujarnya.
Jika di DAK tahun-tahun sebelumnya, RPS tak ubahnya seperti ruang kelas. Namun di DAK Tahun 2022, pembangunan sarana praktik sangat kental dengan suasana yang berlaku di Iduka. “Ini sebenarnya yang kami harapkan, konsep pembangunan dari hasil DAK adalah nuansa industri yang benar-benar hadir di sekolah,” kata pria asal Sumbawa tersebut.
RPS jurusan Tata Boga SMKN 4 Mataram memiliki sejumlah fasilitas, yang sangat mendukung pembelajaran teaching factory. Bangunan dua lantai tersebut dilengkapi berbagai fasilitas, di lantai bawah ada ruang layanan pastry dan bakery, dapur, ruang instruktur, dan ruang penyimpanan. Sementara di lantai atas ada restoran.
“Maka ketika berbicara project maupun production based learning, maka fasilitas yang kami miliki sekarang sangat mendukung untuk itu,” tegasnya.
Teaching factory yang dikembangkan, bukan hanya didukung oleh bangunan fisik, namun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di industri, juga turut dikembangkan oleh SMKN 4 Mataram.
“Dengan ini, ada SOP yang akan dikembangkan oleh sekolah, dengan mengundang pihak UMKM, pengusaha muda untuk membuat mekanisme atau cara kerja berstandar industri. Di sisi lain, ketika berbicara project, maka ada sesuatu hal yang dilakukan, ada produk yang dihasilkan. Kita ini riil,” pungkas Iwan.
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Dikbud NTB M Khairul Ikhwan mengatakan, ikhtiar yang dilakukan SMKN 4 Mataram merupakan model sekolah kejuruan yang diinginkan pemerintah daerah.
“Konsepnya memang seperti ini, bagaimana anak-anak dibekali dengan pembelajaran berbasis project, lebih dekat dengan industri, kemudian ada simulasinya yang didukung oleh RPS ini,” terangnya.
Ketika aktivitas industri hadir melalui RPS jurusan Tata Boga SMKN 4 Mataram, maka layak disebut Business Center. Ini juga untuk mendukung kompetensi dan keahlian peserta didik, saat mereka kembali ke masyarakat.
“Karena sarana praktik ini bisa dikatakan adalah wajah teaching factory, melalui model DAK RPS Tahun 2022, dan saya berharap sekolah benar-benar memanfaatkannya untuk peningkatan skill siswa,” tandasnya. (yun/r10) Editor : Baiq Farida