Ia menjelaskan, surat pengunduran diri dia kirim 23 Juni. Namun masih tetap masuk sampai 30 Juni lalu. Karena proses pengunduran diri harus mendapat persetujuan presiden, maka per 1 Juli ia mengajukan cuti tiga bulan ke depan. ”Sekarang ibu Dede sebagai plt, beliau kabid pemenuhan hak anak,” terang Selly.
Mundur sebagai aparatur sipil negara (ASN/PNS), kata Selly, merupakan konsekuensi yang harus dilakukan setelah memutuskan terjun ke dunia politik. Meski masih bisa menjabat sampai resmi mendaftar di KPU September mendatang. Dia memilih menanggalkan jabatan karir birokrasinya. ”Agar jangan ada fitnah-fitnah,” katanya.
Setelah mundur ia kini lebih leluasa menjalankan agenda-agenda politiknya. Ia pun kini bebas tampil dengan pasangan calonnya TGH Abdul Manan. ”Saya berani (tampil) karena sudah mundur,” ujarnya.
Selly akan maju sebagai salah satu calon wali kota Mataram. Ia berpasangan dengan TGH Abdul Manan. Mereka diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Terpisah, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB H Muhammad Nasir mengatakan, pengunduran diri Selly saat ini sedang diproses. ”Kita ajukan dulu ke pusat,” katanya.
Dengan mundurnya Selly, empat pejabat pemprov yang bertarung di Pilkada serentak 9 Desember telah mundur. Selain Selly, Dewi Noviany, kepala sub bagian tata usaha Balai Pemanfaatan dan Pengamanan Aset Daerah, BPKAD NTB yang maju di Pilkada Sumbawa juga sudah mengundurkan diri.
Dua lainnya H Lalu Saswadi, mantan kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB dan H Lalu Normal Suzana, pejabat Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB. (ili/r5) Editor : Administrator