LombokPost – Nama Mori Hanafi mulai masuk dalam percakapan politik menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTB 2029. Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 menilai politisi asal Bima tersebut merupakan salah satu figur dengan modal politik paling lengkap untuk memimpin Nusa Tenggara Barat pada periode mendatang.
Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto mengatakan, kebutuhan kepemimpinan NTB ke depan tidak cukup hanya mengandalkan popularitas maupun faktor kewilayahan. Menurutnya, daerah membutuhkan figur yang memiliki kapasitas kepemimpinan, jejaring nasional, pengalaman politik, serta kemampuan memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat pusat.
“NTB membutuhkan pemimpin yang mampu menghubungkan kepentingan daerah dengan pusat. Karena tantangan pembangunan ke depan jauh lebih kompleks dibanding hari ini,” ujar Bambang Mei Finarwanto yang akrab disapa Didu di Mataram, Senin (1/6).
Menurut Didu, Mori Hanafi memiliki kombinasi modal politik yang relatif lengkap. Selain berpengalaman di legislatif daerah maupun nasional, Mori juga dinilai memiliki kapasitas organisasi yang teruji serta jaringan politik yang luas.
Perjalanan politik Mori disebut tidak dibangun secara instan. Ia pernah menjabat Wakil Ketua DPRD NTB, menjadi peserta kontestasi Pilkada, terpilih sebagai anggota DPR RI, hingga kini dipercaya memimpin DPW Partai NasDem NTB.
“Pengalaman itu membentuk kapasitas kepemimpinan yang matang. Mori memahami bagaimana memperjuangkan kepentingan daerah melalui jalur kebijakan nasional,” katanya.
Baca Juga: Mahfud MD Prediksi Tidak Ada Pilkada 2029, Begini Penjelasannya
Mi6 menilai Pilgub NTB 2029 akan berlangsung di tengah perubahan besar yang sedang dihadapi daerah. Mulai dari transformasi ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hilirisasi industri, penguatan konektivitas wilayah, hingga persaingan investasi yang semakin ketat.
Karena itu, menurut Didu, gubernur mendatang tidak cukup hanya menjadi administrator pemerintahan, tetapi juga harus mampu menjadi negosiator bagi kepentingan daerah di tingkat nasional.
“Salah satu tantangan NTB selama ini adalah memperkuat posisi tawar di pusat. Dalam konteks itu, pengalaman dan jejaring nasional yang dimiliki Mori Hanafi menjadi sangat relevan,” ujarnya.
Baca Juga: Mulai Beredar Figur-Figur Potensial Maju Pilkada 2029
Selain kapasitas politik, Mi6 juga menyoroti posisi Mori Hanafi sebagai Ketua KONI NTB yang akan mengawal persiapan NTB sebagai tuan rumah bersama Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Menurut Didu, ajang olahraga terbesar nasional tersebut berpotensi menjadi panggung yang menguji kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan jaringan yang dimiliki para tokoh daerah.
Apabila penyelenggaraan PON berjalan sukses, prestasi atlet NTB meningkat, serta mampu menghadirkan dampak ekonomi positif bagi daerah, maka hal itu berpotensi menjadi nilai tambah bagi Mori menjelang Pilgub 2029.
“PON 2028 bisa menjadi leverage politik yang signifikan. Publik tentu akan menilai siapa yang berada di balik keberhasilan agenda besar tersebut,” katanya.
Baca Juga: Rachmat Hidayat Buka Musancab PDI Perjuangan Kota Mataram, Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD
Mi6 juga menilai Mori Hanafi mewakili kebutuhan regenerasi kepemimpinan di NTB. Meski masih tergolong generasi muda dalam politik daerah, ia dinilai memiliki pengalaman organisasi dan politik yang matang.
“Mori masih relatif muda, tetapi jam terbang politiknya panjang. Kombinasi energi generasi baru dan pengalaman inilah yang dibutuhkan NTB,” ujar Didu.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya lagi terjebak pada sentimen geografis dalam menentukan pemimpin daerah.
“Kalau Mori berasal dari Bima, memangnya kenapa? Demokrasi modern tidak lagi mengukur pemimpin berdasarkan asal wilayah, melainkan kapasitas, integritas, rekam jejak, dan kemampuan memimpin seluruh masyarakat NTB,” tegasnya.
Mi6 menilai posisi Mori sebagai Ketua DPW Partai NasDem NTB turut menjadi modal strategis menuju Pilgub 2029.
Menurut Didu, memimpin partai politik tingkat provinsi membutuhkan kemampuan konsolidasi, komunikasi lintas kelompok, membangun konsensus, hingga menjaga soliditas organisasi.
Baca Juga: Menakar Potensi Duet Nursiah-Ramdan di Pilkada 2029
“Ketua partai bukan jabatan administratif. Itu laboratorium kepemimpinan yang menguji kemampuan mengelola konflik dan menggerakkan sumber daya politik,” katanya.
Selain itu, Mori juga dinilai memiliki karakter politik sebagai figur petarung yang mampu bertahan dalam berbagai dinamika dan kompetisi politik.
“Politik adalah arena daya tahan. Banyak figur muncul ketika situasi menguntungkan, tetapi tidak semua mampu bertahan ketika menghadapi tekanan. Mori menunjukkan karakter itu,” ujarnya.
Meski demikian, Mi6 menegaskan bahwa Pilgub NTB 2029 masih terbuka bagi banyak figur potensial lainnya. Namun jika berbicara soal pengalaman, jejaring nasional, kapasitas organisasi, legitimasi politik, dan daya juang, Mori Hanafi dinilai berada dalam barisan terdepan kandidat yang layak diperhitungkan.
Editor : Rury Anjas Andita