“Seperti di lahan saya ini seluas 25 are,” keluh salah satu petani tembakau Desa Landah, Kecamatan Praya Timur Ahmad Hamzan Alwatoni pada Lombok Post, Senin (13/6).
Dikatakan, kerusakan tanaman tembakau juga menyebar ke sejumlah dusun di Desa Landah. Para petani berharap dan berdoa, semoga beberapa hari ke depan tidak turun hujan. Jika terjadi, maka dipastikan para petani tembakau rugi. Apalagi, menanam tembakau modalnya lebih besar daripada yang lain.
“Kalau saya baru 25 are. Yang lain sampai berhektare-hektare, bahkan berpuluh hektare,” papar Hamzan yang juga Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Landah tersebut.
Yang kasihan juga, kata Hamzan, mereka yang menyewa lahan para petani. Sudah mengeluarkan biaya sewa besar, ditambah pembibitan, pengobatan hingga perawatan. Kalau dihitung-hitung bisa menembus angka ratusan juta.
“Bagi kami di Desa Landah, sumber mata pencarian terbesar kami yaitu, tembakau,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya berharap pemkab dan Pemerintah Provinsi NTB turun tangan membantu.
Sementara itu, Ketua Himpunan Petani Tembakau Lombok (HIPTAL) Samsul Hakim mengatakan, kerusakan tanaman tembakau di Gumi Tatas Tuhu Trasna terjadi di beberapa desa di dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Pujut dan Kecamatan Praya Timur.
Saat ini, HIPTAL tengah mengecek dan menghitung berapa total luas lahan tembakau yang rusak. “Setelah itu, kita akan bersikap,” tegas Samsul.
Salah satunya, meminta pemerintah menyiapkan asuransi. Sumbernya dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Bagi Samsul, DBHCHT menjadi hak para petani tembakau. Sehingga wajib disiapkan dan disalurkan sebagaimana aturan yang berlaku.
Jika tidak, maka HIPTAL dan seluruh petani tembakau di Loteng, bahkan Lombok Timur siap bergerak. “Tahun lalu kita juga usulkan hal ini,” pungkasnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita