LombokPost--Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Tengah (Loteng) menyiapkan anggaran pengadaan bibit singkong sekitar Rp 100 juta.
Anggaran ini untuk mendukung keberadaan pabrik tepung tapioka yang telah dibangun di Desa Pancor Dao, Kecamatan Batukliang pada tahun 2023 lalu.
"Nggih, sumbernya dari APBD 2024 untuk pengadaan 39.500 bibit singkong," kata Kepala Dinas Pertanian Loteng M Kamrin, Selasa (23/4).
Kamrin menuturkan, bibit ini nantinya akan digunakan sebagai bahan baku tepung tapioka.
Di mana, pabriknya kini sudah rampung dan segera beroperasi. Adapun jenis singkong yang digunakan untuk bahan baku tepung tapioka adalah yang memiliki kadar pati tinggi.
"Sebetulnya, singkong di Lombok bisa saja digunakan, namun kualitas hasil tepung tentu berbeda. Sehingga kami lakukan pengadaan dari luar," terangnya.
Ia menuturkan, bibit stik singkong sendiri akan dicari di luar NTB sebab singkong dengan varietas yang dibutuhkan belum ada di Lombok. Pemda pun berencana menanam singkong tersebut di bagian utara wilayah Loteng karena lebih memungkinkan untuk mendapatkan produksi maksimal.
"Kami akan tanam di wilayah utara dan sudah ada sekitar 15 hektare (Ha) lahan sebagai tempat menanam," ucap mantan kepala Dislutkan Loteng ini.
Sebagai uji coba, sambungnya, sementara ini kemungkinan yang bisa digunakan sekitar empat hektare (Ha) dan masa panen singkong hingga delapan bulan. Untuk memenuhi kebutuhan pabrik, bahan baku juga dapat diambil di kabupaten lain.
"Bahan baku untuk mendukung pabrik tepung tapioka itu bisa diambil dari daerah lain," jelasnya.
Kamrin menuturkan, keberadaan pabrik tepung tapioka ini bisa memproduksi tepung tapioka hingga 10 ton per hari. Sehingga tentu akan membutuhkan bahan baku yang cukup tinggi dan pemda berencana melakukan gerakan menanam singkong. "Dalam waktu dekat ini," tandasnya.
Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Loteng Muslihin mengatakan, sumber anggaran pengadaan bibit berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Serta pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng bahwa pabrik tersebut mampu beroperasi sekitar lima hingga 10 ton singkong per hari.
"Dari jumlah ini, maka bisa menghasilkan 300 kilogram (Kg) per satu ton per hari," katanya.
Dengan pengadaan bibit singkong ini akan membuka lapangan pekerjaan baru. Satu sisi masih banyak lahan di Loteng yang dapat difungsikan, salah satunya lahan yang tidak bisa ditanami padi.
"Lalu kita arahkan masyarakat kita menanam singkong tersebut, dan jangka waktu panen delapan bulan," ucap politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.
Menurutnya, melihat kesiapan lahan didaerah maka tidak perlu pemda lakukan impor dari luar. Kecuali, mendatangkan dari daerah lain seperti Lampung. Dewan pun mengarahkan lahan ini ditanami sesuai kebutuhan.
"Termasuk pengelolaannya (menyetujui, red) dikelola UPT atau BUMD," tutup Muslihin. (ewi)
Editor : Kimda Farida