LombokPost-Pemerintah Kabupaten (pemkab) Lombok Tengah (Loteng) terus berupaya membenahi karut-marut data pembangunan dari tingkat akar rumput. Menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS), pemkab resmi meluncurkan program Desa/Kelurahan Cinta Statistik (Desa Cantik) tahun 2026.
Langkah ini menjadi komitmen serius pemkab Loteng dalam mewujudkan sistem satu data yang dimulai dari desa. Untuk tahap awal di tahun 2026, Kelurahan Praya, Desa Montong Terep, dan Desa Mertak Tombok resmi ditetapkan sebagai pilot project desa binaan.
Baca Juga: Kasus PPJ Lombok Tengah, Tiga Eks Pejabat Dituntut Penjara dan Sita Harta
Wakil Bupati (wabup) Loteng M Nursiah menegaskan, desa memiliki peran yang sangat strategis. Menurutnya, desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan ujung tombak sekaligus sumber utama seluruh data sektoral.
“Pembangunan yang efektif harus didukung oleh data yang akurat dan berkualitas. Jangan sampai kebijakan yang kita ambil meleset karena datanya tidak valid,” tegas Nursiah pada wartawan, Jumat (24/4).
Wabup menekankan, dari sisi manajerial desa, program Desa Cantik ini akan menjadi dasar bagi desa dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) maupun RKPDes agar lebih presisi.
Baca Juga: CSD Samara Dorong Pendidikan dan Kesehatan Desa
“Selama ini intervensi program sering terkendala sinkronisasi data. Melalui Desa Cantik, kita mendorong aparat desa agar lebih melek statistik. Jika datanya sehat, maka perencanaan pembangunannya pun akan tepat sasaran dan akuntabel,” terangnya.
Menurut wabup, memerlukan pengawalan ketat dalam peningkatan kapasitas perangkat desa agar mampu mengelola data secara mandiri. Hal ini penting mengingat tantangan di lapangan seringkali berbenturan dengan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM).
Nantinya, melalui sinergi antara Dinas Kominfo, Dinas PMD, dan BPS, perangkat di desa terpilih akan mendapatkan pendampingan intensif.
Tujuannya agar mereka tidak hanya sekadar mengumpulkan angka, tetapi mampu memanfaatkan data tersebut sebagai dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Wabup Nursiah berharap, keberhasilan tiga desa/kelurahan ini nantinya dapat menular ke seluruh desa di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Sehingga ke depan, tidak ada lagi perdebatan mengenai ketidaksinkronan data dalam penyaluran bantuan maupun pelaksanaan program strategis daerah.
Terpisah, Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, program Desa Cantik bukan sekadar label, melainkan sebuah manifestasi dari semangat untuk membangun NTB dari pinggiran.
Baca Juga: Ini 5 Alasan Drama China Terbaru Fate Chooses You Wajib Ditonton
BPS NTB berkomitmen penuh untuk melakukan transformasi peran desa, dari yang sebelumnya hanya sebagai objek pendataan, kini harus berdaya sebagai subjek dan aktor utama dalam pengelolaan data statistik.
Ketepatan sasaran pembangunan sangat bergantung pada kualitas data di tingkat akar rumput. Sebab itu, pada tahun 2026 ini, BPS NTB memfokuskan pencanangan program pada lokasi-lokasi strategis yang telah memenuhi kriteria kesiapan infrastruktur, SDM, dan dukungan digital.
“Lombok Timur ada Desa Rarang, Desa Rarang Selatan dan Desa Kalianyar di Kecamatan Terara, Lombok Tengah di Kelurahan Praya, Desa Montong Terep dan Desa Mertak Tombok, di Kota Mataram ada Kelurahan Ampenan Tengah. Kemudian Lombok Barat di Kediri Selatan,” bebernya.
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kesiapan ekosistem digital dan komitmen aparatur desanya. Dengan memperkuat literasi statistik perangkat desa, NTB sedang membangun fondasi perencanaan pembangunan yang lebih akurat, transparan, dan akuntabel.
Baca Juga: Program Kementerian Komdigi, Kampung Internet Ubah Ekonomi Desa
Tujuan akhir sudah jelas memastikan setiap kebijakan publik, baik itu pengentasan kemiskinan maupun pembangunan infrastruktur, benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.
“Saat desa berdaya dengan data, maka kesejahteraan masyarakat NTB bukan lagi sekadar angka, melainkan realitas yang dapat kita wujudkan bersama,” kata dia.
Editor : Akbar Sirinawa