LombokPost-Hariyono 80 tahun asal Dusun Paok Pondong, Desa Lenek, Lombok Timur tetap kuat berjalan kaki menelusuri desa-desa di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, sambil membawa tikar pandan dan tikar mendong untuk dijualnya.
--------------
Seorang pria tua berjalan membelah terik matahari sambil membawa tikar tandan yang dipikul menggunakan kepala.
Karena terlalu gerah, ia memutuskan untuk menurunkan barang dagangannya. Beristirahat sejenak untuk bisa melangkah lebih jauh.
Terlihat keringat mengalir dari wajah keriputnya, hingga membasahi pakaian yang digunakan.
Dengan kain yang ada di kepalanya, Hariyono mengusap keringat yang mengucur.
Sementara dari balik lipatan sarung yang digunakan, perlahan-lahan kantong plastik hitam berisi tembakau rajang ia keluarkan.
Hariyono kemudian melinting satu batang rokok.
Berjualan tikar sudah dilakukan Hariyono sejak 1980 hingga saat ini.
Setiap hari dirinya berjalan kaki, dari pagi hingga petang menyusuri jalan desa, persawahan hingga perkebunan warga.
”Sebelum jualan tikar saya dulu jual sarung. Tetapi sejak tahun 1980 saya fokus jualan tikar. Dulu di Desa Lenek banyak yang buat tikar, tetapi sekarang sudah jarang, karena jarang yang menggunakan tikar pandan lagi,” terangnya, Selasa (12/11).
Dalam sehari dirinya hanya bisa jual 4-5 tikar, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebelum barang dagangannya habis terjual, ia tidak akan pulang. Meskipun sudah berminggu-minggu lamanya di desa orang.
Selama puluhan tahun menjadi pedagang tikar, Hariyono telah mendatangi banyak tempat. Mulai dari Ampenan di Pulau Lombok hingga desa di ujung Sape, Bima.
”Tapi selama satu tahun ini saya hanya jualan di Lotim saja. Karena barang yang kita bawa sekarang sedikit. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kita bisa bawa sampai ratusan. Sekarang paling banyak 30-50 saja,” bebernya.
Berminggu-minggu tidak pulang, makan minum dan tidur ia numpang di rumah warga. Hampir setiap desa yang telah dimasuki Hariyono memiliki sahabat karib.
Di rumah sahabatnya inilah tempat ia menitipkan barang dagangannya jika tidak habis dijual.
Selama puluhan tahun berjualan tikar, ada satu pengalaman yang tidak akan dilupakannya. Yakni ketika ia memasuki di Desa Besari, sekitar 2017 silam, yang disebut sebagai desa hilang oleh masyarakat Lombok.
Desa ini berada di Kabupaten Lombok Utara (Lotara).
Diceritakan, kala itu dirinya sudah keliling Lombok Utara lima hari lebih.
Naik gunung turun gunung memikul barang dagangannya.
Siang itu ia memilih berjalan menyusuri salah satu sungai dan melewati hutan yang sepi.
Di tengah perjalanan ia ditegur dua laki-laki yang tengah mencangkul di sawah. Keduanya memintanya untuk berjualan ke Desa Besari.
”Saya langsung iya kan. Dia bilang desa itu ramai karena desanya besar. Saya langsung jalan menelusuri parit dekat orang itu mencangkul. Benar saja tidak lama berjalan saya menemukan sebuah desa yang ramai dan besar,” bebernya saat menceritakan kejadian kala itu.
Saat itu, dirinya tidak merasakan apa-apa dan merasa aneh dengan orang-orang di desa tersebut.
Puluhan tikar yang dibawa habis terjual dalam waktu beberapa jam.
Saat itu tikar masih dijual seharga Rp 15 ribu untuk tikar jenis mendong Rp 30 untuk tikar pandan.
Seusai jualan ia kemudian salat di masjid desa tersebut.
Warga di desa itu sangat ramah dan baik. Ia diberikan makan minum dan dibuatkan kopi.
Setelah barang dagangannya habis dan selesai makan ia pamit untuk pulang. Seusai pamit salah satu tokoh di desa itu menunjukkan jalan keluar dari desa.
Benar saja setelah jalan beberapa meter, ia menemukan jalan menuju hutan.
”Keesokan harinya saya mau balik lagi ke Desa Besari untuk jualan tikar. Tetapi saat memasuki jalan hutan saya ditanya sama warga. Mau ke mana? Saya jawab mau ke desa Besari. Saya kemudian diberi tahu bahwa desa itu tidak ada, saya langsung kaget,” katanya.
Saat itu dirinya juga belum percaya terkait keberadaan Desa Besari yang merupakan desa hilang itu.
Mengingat uang yang diberikan juga merupakan uang asli rupiah dan tidak berubah sampai pulang ke Lotim.
Setelah mendengar cerita dari salah seorang tokoh masyarakat ia kemudian percaya dengan keberadaan Desa Besari.
Sejak itu dirinya jarang untuk berjualan ke wilayah Lombok Utara. Apalagi dari cerita tersebut, konon orang yang sudah masuk ke Desa Besari, tidak bisa kembali lagi. (supardi/r11)
Editor : Kimda Farida