LombokPost-Sekretaris Daerah (Seda) Lombok Timur (Lotim) meluncurkan ekowisata mangrove Desa Sugian Kecamatan Sambelia. Kehadiran ekowisata ini diharapkan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Desa Sugian.
"Kami harap Desa Sugian akan tumbuh menjadi desa mandiri dan sejahtera, yang salah satunya ditopang oleh wisata mangrove," terang M Juaini Taofik.
Menurutnya, rimbunnya hutan mangrove membawa pesan tentang pentingnya menjaga dan melindungi. Nilai ini juga menjadi filosofi dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan bebas dari kekerasan.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Lotim Urutan Kedua di NTB
Prinsip menjaga alam, kata dia, sejalan dengan membina keluarga. Keduanya membutuhkan kesadaran untuk melindungi, bukan sekadar memiliki.
Dengan semangat tersebut, keberlanjutan ekosistem dapat terjaga.
"Sebagaimana rumah tangga yang harmonis akan jauh dari KDRT karena landasannya adalah saling menjaga satu sama lain.Di balik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi bukan memilik," katanya.
Juaini mengapresiasi Wahana Visi Indonesia (WVI) yang telah menunjukkan komitmen dalam mewujudkan destinasi mangrove tersebut. Ia menilai langkah ini menjadi awal kolaborasi yang lebih luas.
Baca Juga: Panen Padi di Lotim Tembus 8 Ton per Hektare
Ia menjelaskan, peluncuran wisata ini tidak hanya untuk restorasi mangrove, tetapi juga memastikan perputaran ekonomi masyarakat Desa Sugian melalui penguatan variasi usaha di wilayah Sambelia.
"Mangrove memilik peran penting dalam mencegah abrasi. Untuk itu kami sangat mengapresiasi pendekatan pembangunan ekowisata ini yang begitu menyatu dengan masyarakat," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pengelola agar memisahkan manajemen pengelolaan dan hak kepemilikan. Menurutnya, banyak destinasi gagal berkembang karena tidak mampu mengelola dua hal tersebut.
Juaini mendorong kreativitas Pokdarwis dalam menciptakan atraksi wisata tanpa mengganggu kelestarian mangrove. Keaktifan Pokdarwis menjadi penentu keberlanjutan destinasi.
“.Ada tiga pilar utama yang harus diperhatikan dalam pariwisata yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi," tutupnya.
Kepala Desa Sugian Lalu Mustiadi mengatakan, wilayah Desa Sugian didominasi kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Gili Sulat dan Gili Lawang.
Baca Juga: Kuota Sekolah Rakyat Dasar Lombok Timur Hanya 100 Siswa, Dinsos Minta Tambahan
Pengelolaan wisata di Pantai Gubuk Bedek Keramat Suci Sugian selama ini mendapat pendampingan dari WVI.
"Selain pendampingan dalam program regreen mangrove, kami berharap kolaborasi dengan WVI terus berlanjut guna mengembangkan potensi lain, seperti tambak masyarakat, agar Desa Sugian mampu sejajar dengan desa-desa wisata maju lainnya di Lotim," katanya.
Perwakilan WVI Sidiq menegaskan pengembangan ekowisata ini merupakan tahap awal dari rencana jangka panjang 5 hingga 10 tahun ke depan.
“Fokus utama kami bukan sekedar menanam, melainkan melakukan restorasi mangrove secara menyeluruh sebagai upaya perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Sidiq.
Editor : Akbar Sirinawa