LombokPost-Hujan yang datang tiba-tiba membuat petani tembakau di Lombok Timur (Lotim) harus lebih waspada. Dinas Pertanian (Distan) Lotim meminta petani memperkuat mitigasi. Salah satunya dengan memperhatikan kondisi bedengan.
“BMKG sudah memprediksi kemarau tahun ini akan lebih awal dan lebih lama terjadi. Tetapi awal Juni lalu bahkan sampai sekarang masih terjadi hujan secara tiba-tiba. Sehingga mengakibatkan banyak tanaman tembakau petani di Suela terendam akibat hujan beberapa minggu lalu,” terang Kabid Perkebunan Distan Lotim Mirza Sofian saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/6).
Mirza mengakui, kondisi cuaca tahun ini telah disosialisasikan sejak 2023. Ia meminta petani memperkuat mitigasi dengan membuat bedengan lebih dalam untuk mengantisipasi tanaman tembakau terendam.
Baca Juga: Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Lombok Timur Dipangkas Rp 49 Miliar
Ia menyebut, pada 2024 lalu sekitar 4.000 hektare lahan tembakau terdampak cuaca buruk di Lotim. Karena itu, mitigasi dalam budi daya tanaman tembakau diharapkan bisa dilakukan dengan baik dan benar.
“Tembakau merupakan tanaman yang tidak membutuhkan air banyak dan juga tidak boleh terlalu kering. Jika terendam terus-menerus, apalagi kalau baru ditanam maka akan mudah mati,” jelasnya.
Mirza menyebut, tanaman tembakau petani di Suela sering terendam. Selain karena daerah itu memiliki curah hujan tinggi, cara penanaman juga dinilai masih kurang tepat. Banyak petani tidak membuat bedengan dan masih menggunakan mulsa jerami.
Baca Juga: Kawal Aspirasi Petani Tembakau, Satpol PP NTB Amankan Hearing Aliansi LAUK di Kantor Gubernur
Musim tanam tahun ini juga mundur dari tahun sebelumnya. Penyebabnya, kondisi cuaca tidak menentu. Umumnya, pada Mei hingga awal Juni petani sudah selesai menanam. Namun, saat ini banyak petani belum menanam dan memilih mundur karena pada Juni masih turun hujan.
“Bahkan hingga menjelang Juli masih ada petani yang belum menanam. Terutama petani yang menanam padi dua kali di daerah-daerah yang memiliki irigasi yang memadai,” katanya.
Lebih jauh, Mirza menyampaikan asuransi bagi petani tembakau yang gagal panen belum bisa dijalankan seperti asuransi petani padi. Namun, pihaknya bersama Bappeda telah menginisiasi program itu melalui kajian pada tahun sebelumnya.
Menurut dia, asuransi tembakau dimungkinkan diberikan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Akan tetapi, DBHCHT Lotim tahun ini berkurang hampir separo.
“DBHCHT kita tahun ini hanya Rp 55 miliar dari yang sebelumnya mencapai Rp 104 miliar. Pengurangan DBHCHT ini sangat berdampak terhadap anggaran yang dialokasikan kepada bidang perkebunan untuk bantuan kepada petani,” jelasnya.
Pada tahun lalu, bidang perkebunan mendapat alokasi anggaran bantuan petani mencapai Rp 5 miliar. Tahun ini, anggaran menyusut drastis menjadi Rp 1 miliar. Dengan anggaran itu, pihaknya hanya bisa menyasar 15 kelompok tani. Sebelumnya, bantuan bisa menyasar 40 hingga 60 kelompok.
Baca Juga: Hujan Lebat Rusak Tanaman Tembakau di Suela Lotim
Sebelumnya, Kepala Badan Keuangan Daerah (BPKAD) Lotim M Zaidar Rohman menyampaikan, meski mengalami pengurangan, Pemkab Lotim akan berusaha agar program yang dibiayai dari DBHCHT tidak terdampak.
“Kita akan berupaya bagaimana DBHCHT yang akan kita dapatkan kembali meningkat. Dengan memanfaatkan potensi yang ada. Salah satunya keberadaan Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau, (APHT) Paokmotong,” jelasnya.
Editor : Kimda Farida