Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Budi Daya Labu Siam di Desa Timba Nuh, Tak Membutuhkan Banyak Perawatan, Jadi Salah Satu Penggerak Ekonomi Masyarakat

Supardi • Selasa, 14 Juli 2026 | 18:21 WIB
PETANI SAYUR: Rizal membawa labu siam yang baru dipetik dari pekarangan rumahnya di Desa Timba Nuh, Lombok Timur.
PETANI SAYUR: Rizal membawa labu siam yang baru dipetik dari pekarangan rumahnya di Desa Timba Nuh, Lombok Timur.

LombokPost - Di antara alpukat, durian, rambutan, dan kopi yang memenuhi kebun warga Desa Timba Nuh, labu siam tumbuh menjalar di atas para-para. Buahnya bergelantungan di antara kawat dan tali. Bagi warga desa di Kecamatan Pringgasela itu, labu siam bukan sekadar sayuran, tetapi juga penopang penghasilan keluarga.

Labu siam hampir tumbuh di setiap lahan warga. Tanaman itu tumbuh subur berdampingan dengan jenis tanaman lain.

Petani labu siam Desa Timba Nuh Rizal mengatakan, rata-rata masyarakat setempat membudidayakan labu siam. Mereka menanamnya di kebun maupun pekarangan rumah. Labu siam bahkan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Marta Green, Varietas Alpukat “Raksasa” di Kaki Gunung Rinjani Potensi Ekonominya Tinggi, Bikin Masyarakat Timbanuh Enggan Jadi Porter Pendakian

”Rata-rata di sini pasti budi daya labu siam. Karena selain murah perawatannya, juga bertahan lama. Modal awalnya saja yang mahal, karena harus buat para-para,” terang Rizal, Senin (13/7).

Petani tidak membutuhkan biaya mahal untuk mendapatkan bibit. Mereka bisa menyemai sendiri atau meminta bibit kepada petani lain.

Masa produksi labu siam cukup panjang. Tanaman bisa berproduksi selama lima hingga enam tahun jika tidak terserang hama dan penyakit busuk akar.

Baca Juga: Jalur Timbanuh dan Aik Berik Butuh Promosi

Petani biasanya memanen labu siam sekali sepekan. Dari lahan seluas sekitar 30 are, Rizal biasanya memanen 40–45 kantong kresek. Namun, serangan hama dan penyakit menurunkan hasil panen menjadi 20–25 kantong.

”Hamanya itu kutu putih dan busuk akar. Kalau sudah terserang tidak bisa diselamatkan, harus dicabut agar tidak menular ke tanaman yang lain,” katanya.

Perawatan labu siam juga tidak rumit. Petani tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Mereka hanya memakai pupuk organik dari kotoran sapi, ayam, atau kambing.

Baca Juga: Cerita Resto Seleraku Asam Pedas di Mataram : Ada Daging Bakar Sambal Kopi hingga Cumi Bakar Sambal Alpukat

Di daerah lain, tanaman ini dinilai kurang berharga dan menguntungkan. Namun, bagi masyarakat Timba Nuh, labu siam menjadi salah satu sumber penghasilan selain buah-buahan dan kopi.

Alhamdulillah selalu terserap oleh pasar. Artinya peminat labu siam ini cukup tinggi,” jelasnya.

Petani biasanya menjual hasil panen ke Pasar Tradisional Paokmotong, Masbagik, atau langsung kepada pengepul. Namun, saat ini harga labu siam sedang turun.

Baca Juga: Alpukat Hass Primadona Baru di Kawasan Sembalun Lombok Timur

Satu kantong kresek besar berisi 22 kilogram dijual seharga Rp 35 ribu. Sepekan lalu, harganya sempat turun menjadi Rp 20 ribu per kantong.

Harga turun karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur selama beberapa pekan. Saat program MBG beroperasi, harga labu siam mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu per kantong.

”Mudah-mudahan setelah kembali beroperasinya MBG nanti, harga kembali mahal,” katanya.

Baca Juga: Ratusan Kilogram Alpukat dan Binjai dari Narmada Diekspor ke Singapura Tahun Ini

Selain program MBG yang tidak beroperasi, pasokan labu siam dari Bali turut menekan harga. Kondisi itu membuat stok labu siam di pasar cukup banyak.

Masyarakat juga sempat mengolah labu siam menjadi keripik. Namun, usaha itu tidak bertahan lama karena terkendala pemasaran. Proses pengolahannya juga membutuhkan waktu cukup lama. 

”Sempat ada yang mengolah, tapi sudah berhenti. Sekarang lebih memilih untuk dijual langsung. Karena prosesnya juga tidak ribet dan langsung kelihatan hasilnya,” katanya. 

 

Editor : Marthadi
Sumber : Lombok Post
labu siam timbanuh alpukat sayur Durian