Tembakau Cokelat Sulit Terserap Perusahaan

Supardi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:17 WIB
OVEN TEMBAKAU: Ketua Kelompok Tani  Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang Mansur saat melihat tembakau yang sudah matang di oven listrik.
OVEN TEMBAKAU: Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang Mansur saat melihat tembakau yang sudah matang di oven listrik.

LombokPost-Petani tembakau virginia di Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan sulitnya menjual hasil produksi, terutama tembakau berwarna cokelat. Kondisi itu terjadi karena sebagian besar perusahaan menyerap tembakau berkualitas super atau kelas 1.

“Tembakau yang cokelat tidak ada perusahaan yang mau terima. Ditolak, kalaupun diterima harganya sangat murah,” terang salah seorang petani tembakau di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Mansur, saat dikonfirmasi Lombok Post, Jumat (12/9).

Kata dia, harga tembakau pada musim tanam tahun ini juga dinilai lebih murah dibanding tahun sebelumnya. Harga tembakau daun kedua dengan kualitas super saat ini hanya laku Rp 4,7 juta per kuintal. Sementara tahun lalu harganya bisa menembus Rp 5 juta per kuintal.

Baca Juga: Dewan Minta Petani Jaga Kualitas Daun Tembakau

Sedangkan daun ketiga dan keempat dijual Rp 5 juta per kuintal. Sebelumnya, tembakau itu bisa dijual Rp 5,5 juta hingga Rp 6 juta per kuintal.

 “Kalau menurut saya, harga tembakau sekarang sedikit turun dari tahun sebelumnya, meskipun turunnya tidak terlalu banyak,” katanya.

Dia menyebutkan, penurunan harga itu tidak terlalu dipermasalahkan. Namun, yang banyak dikeluhkan adalah belum adanya perusahaan yang mau menerima tembakau cokelat sehingga petani bingung menjualnya. Tembakau dengan warna cokelat dianggap kualitasnya kurang bagus atau berada pada kelas 3.

Sementara, kata dia, hasil produksi petani banyak yang berkualitas cokelat. Harga tembakau cokelat saat ini berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 2,7 juta per kuintal. Kondisi itu dinilai akan merugikan petani.

Baca Juga: Melihat Oven Tembakau Listrik Pertama di Indonesia

“Rata-rata keluhan petani sama saja. Mereka tidak bisa jual yang cokelat. Di bawa ke gudang tembakaunya direject,” katanya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa melakukan intervensi terhadap perusahaan agar tembakau kelas tiga juga bisa diserap, mengingat tidak semua petani menghasilkan tembakau berkualitas super.

Lebih lanjut, kata dia, tahun ini juga banyak tanaman petani yang terserang penyakit di sawah hingga mengakibatkan tembakau mati. Karena itu, dirinya sangat berharap Bupati Lotim bisa membantu agar harga tembakau meningkat dan tembakau cokelat bisa terserap.

Baca Juga: DBHCHT Rp 32 Miliar Difokuskan Dukung Produktivitas Petani Tembakau NTB

“Kami sangat berharap bupati turun melihat kondisi petani dan lihat di gudang. Jangan hanya dilihat rata-rata harga yang dia beli saja. Tapi harga cokelat ini tolonglah dibantu,” katanya.

Senada dengan Mansur, Sahmat, salah seorang petani tembakau asal Kecamatan Sakra, juga mengeluhkan hal serupa. Tembakau kualitas cokelat tidak bisa terserap oleh perusahaan.

“Kalau yang kelas super harganya memang normal, harganya sampai Rp 6 juta. Yang jadi masalah yang cokelat ini, kami tidak tahu mau jual ke mana,” jelasnya.

Baca Juga: Pusat Gelontorkan DBHCHT Rp 312 Milyar, DPRD NTB Dorong Berpihak ke Petani Tembakau

Sementara, kata dia, saat ini tembakau petani hampir habis dipanen. Sedangkan tembakau yang sudah dioven banyak yang belum terserap, terutama yang berkualitas cokelat.

Dirinya sangat berharap persoalan itu segera direspons dan ditindaklanjuti Bupati Lotim dengan berkoordinasi bersama perusahaan-perusahaan tembakau di Lotim. Dia berharap tembakau cokelat juga bisa diserap dengan harga lebih tinggi.

“Saya tinggal sekali panen, sementara tembakau yang cokelat belum terserap. Yang terjual hanya kelas 1 dan 2 saja,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Lotim Dorong Hirilisasi Tembakau

Bupati Lotim Haerul Warisin meminta petani tidak menjual tembakau kepada saudagar atau tengkulak, tetapi langsung ke perusahaan agar harga tidak dipermainkan. Jika ada perusahaan yang membeli dengan harga di bawah standar, dirinya berjanji akan turun langsung menyelesaikan persoalan itu.

“Kalau ada yang jual di bawah standar silakan laporkan, biar kita langsung selesaikan karena ini tugas Pemkab Lotim,” tegasnya. (par/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
kualitas coklat Virginia petani tembakau harga tembakau anjlok tembakau