Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Ini adalah peringatan serius jelang big match Serie A akhir pekan ini di Stadion Diego Armando Maradona.
Roma sempat dibuat deg-degan di menit awal. Kiper Cagliari, Elia Caprile, hampir mencetak gol bunuh diri setelah salah mengontrol bola hasil umpan balik. Beruntung, ia masih bisa menyapu bola tepat di garis gawang.
Namun setelah itu, Roma sepenuhnya menguasai laga.
Gol pembuka hadir pada menit ke-25. Gianluca Mancini mengirim umpan terobosan jenius, Malen membaca ruang dengan sempurna, lalu menaklukkan Caprile dari sudut sempit dengan sentuhan lob elegan.
Gol penuh kelas—dan semakin istimewa karena tercipta tepat di depan Francesco Totti, maestro sentuhan lembut yang kini duduk di tribun.
Kehadiran Totti menjadi magnet tersendiri. Kamera beberapa kali menyorot sang legenda, dan setiap kali itu terjadi, Olimpico bergemuruh. Totti berdiri, tersenyum, dan membalas tepuk tangan para tifosi.
Di babak kedua, Malen benar-benar tak terbendung. Penyerang asal Belanda itu nyaris mencetak gol salto sebelum akhirnya menggandakan keunggulan Roma pada menit ke-65.
Aksi brilian Zeki Çelik di sisi kanan berujung umpan mendatar sempurna, yang diselesaikan Malen tanpa kesulitan.
Dua gol, satu malam, dan performa yang membuat lini belakang Napoli patut waspada.
Menurut laporan onefootball.com, kemenangan ini menjadi salah satu penampilan paling meyakinkan Roma musim ini, terutama dari sisi intensitas dan efektivitas serangan.
Di luar lapangan, isu masa depan Totti kembali mencuat. Direktur olahraga Roma, Frederik Massara, mengakui hubungan baik antara keluarga Friedkin dan Totti. Namun ia menegaskan, keputusan soal kemungkinan kembalinya sang legenda ke manajemen sepenuhnya berada di tangan pemilik klub.
Roma kini menatap ke depan. Napoli menunggu. Dengan Malen dalam performa puncak dan kepercayaan diri tinggi, Giallorossi datang bukan sekadar bertamu—mereka datang untuk menantang.
Editor : Marthadi