LombokPost - Selama lebih dari tiga dekade, Jepang membangun satu mimpi: menjuarai Piala Dunia.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) menuliskannya ke dalam JFA Declaration 2005 yang menetapkan target memiliki 10 juta football family sekaligus menjadi jawara sejagat pada 2050.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam filosofi sepak bola nasional Japan's Way yang diperbarui pada 2025.
Baca Juga: Kongo Lolos Dramatis, Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Tapi, kenapa harus menunggu 25 tahun lagi kalau mimpi itu bisa coba diwujudkan sekarang?
Tidak akan mudah, tentu saja. Apalagi, di babak 32 besar Piala Dunia 2026 pada pukul 00.00 WIB dini hari nanti di Stadion NRG, Houston, Amerika Serikat, Samurai Biru sudah ditunggu pengoleksi gelar Piala Dunia terbanyak: Brasil.
Bahkan, Negeri Samba itu juga menjadi salah satu acuan ketika JFA tengah membidani kelahiran J.League pada awal 1990-an. Apalagi, ada relasi kuat secara kultural antara kedua negara.
Baca Juga: Daftar 16 Tim Tersingkir dari Fase Grup Piala Dunia 2026
Di Brasil, persisnya Sao Paulo, terletak komunitas Jepang terbesar di luar Jepang. Di negeri yang beribu kota di Brasilia itu pula, Kazuyoshi Miura, superstar sepak bola pertama Jepang, mengawali karier profesionalnya.
Zico, legenda Brasil, turut membantu membangun fondasi sepak bola profesional Jepang sejak bergabung dengan Kashima Antlers pada 1991.
Meski telah berusia 38 tahun, Zico masih menunjukkan kelasnya dengan mencetak hat-trick pada laga pembuka J.League 1993.
“Saya sudah mencapai semuanya sebagai pemain. Yang terpenting adalah memulai dari nol dan mengarahkan sepak bola Jepang ke jalur yang benar,” kata Zico kepada FIFA pada 2022.
Lebih Kompetitif
Zico yang pernah melatih Jepang pada 2002-2006 dan saat ini masih berstatus sebagai konsultan di Kashima Antlers menilai, perubahan terbesar Jepang bukan pada aspek teknik atau taktik, melainkan mental. Pemain diajari untuk tidak takut membuat kesalahan.
Lebih dari tiga dekade kemudian, Zico melihat, perubahan besar telah terjadi. “Jepang sekarang berada pada level yang jauh lebih kompetitif. Mereka siap menghadapi siapa pun,” ujarnya dalam wawancara terbaru dengan FIFA jelang laga 32 besar.
Jika dulu J.League mendatangkan para pemain, kini, 23 dari 26 pemain Samurai Biru di Piala Dunia 2026 justru berkarier di berbagai liga elite Eropa. Di Piala Dunia 2022, Jepang juga mengalahkan Jerman dan Spanyol. Lalu, meraih kemenangan pertama atas Brasil dalam laga uji coba pada Oktober 2025, kemudian menundukkan Inggris dalam laga persahabatan lainnya pada Maret.
“Kami belum pernah mencapai perempat final. Namun, kami tahu, tim ini memiliki target menjadi juara dunia dan federasi akan mendukung tujuan itu,” ujar Presiden JFA Tsuneyasu Miyamoto kepada ESPN.
SAMBA DAN SAKURA DI SEPAK BOLA
DIASPORA
Brasil menjadi rumah bagi sekitar 2 juta diaspora Jepang, terbesar di luar Jepang. Sebaliknya, Jepang juga memiliki komunitas besar warga keturunan Brasil (Nikkei Brazilians).
ZICO
Bergabung dengan Sumitomo Metal Industries (kini Kashima Antlers) pada 1991 dan membantu membangun fondasi sepak bola profesional Jepang.
KAZU MIURA
Ikon sepak bola Jepang yang mengawali karier profesional di Brasil pada 1986 dan sempat memperkuat sejumlah klub, termasuk Santos dan Palmeiras.
PEMAIN BERDARAH BRASIL
Timnas Jepang pernah diperkuat Ruy Ramos, Wagner Lopes, Alessandro Santos (Alex), hingga Marcus Tulio Tanaka yang lahir di Brasil.
BINTANG BRASIL DI J.LEAGUE
Selain Zico, Dunga, Careca, Leonardo, Bebeto, Djalminha, dan Marcio Amoroso juga pernah meramaikan kompetisi Jepang.
CAPTAIN TSUBASA
Tokoh utama Tsubasa Ozora sempat berkarier di Sao Paulo FC dan sejak kecil dimentori Roberto Hongo yang berasal dari Brasil.
Dari berbagai sumber (ka/ttg/jpg/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online