LombokPost - Lombok Utara menjadi salah satu kabupaten yang memiliki kerawanan bencana cukup tinggi.
Karena itulah, Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Kebencanaan.
Musrenbang biasanya identik dengan daftar usulan jalan, jembatan, atau irigasi. Akan tetapi di forum kali ini tidak demikian.
Yang menjadi fokus malah soal ancaman bencana. Seperti gempa bumi, tsunami, hingga banjir dan longsor.
Inilah yang mengemuka dalam Musrenbang Tematik Kebencanaan pada Selasa (3/3) lalu.
"Lombok Utara memang berada di wilayah yang secara geologis dan geografis memiliki tingkat kerawanan tinggi," kata Kepala Bappeda KLU Hermanto.
Dia mengatakan, posisi Lombok Utara berada di jalur cincin api. Kondisi tersebut menjadikan daerah ini rawan gempa bumi, tsunami, bahkan likuifaksi.
Di sisi lain, karakteristik wilayah pesisir, perbukitan, dan daerah aliran sungai juga menyimpan potensi bencana hidrometeorologi.
Seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, hingga gelombang ekstrem.
“Dalam konteks perencanaan pembangunan daerah, pengurangan risiko bencana menjadi bagian strategis," kata Hermanto.
Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Karena itulah, kata Hermanto, pembangunan tak lagi bisa sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Ketangguhan wilayah harus menjadi arus utama.
Kebijakan tersebut selaras dengan arah pembangunan nasional maupun daerah. Yaitu pembangunan yang menempatkan aspek keselamatan dan keberlanjutan sebagai prioritas.
Melalui Musrenbang Tematik Kebencanaan ini, pemerintah daerah berupaya menghadirkan forum partisipatif yang secara khusus membedah isu kebencanaan.
Tujuannya, memastikan program dan kegiatan penanggulangan bencana benar-benar terintegrasi dalam dokumen rancangan awal RKPD 2027.
Hermanto menegaskan, Musrenbang ini bukan sekadar rutinitas administrasi. Tetapi menjadi ruang konsolidasi.
Mulai dari kebutuhan penguatan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas relawan desa, hingga pengarusutamaan tata ruang berbasis mitigasi risiko.
Secara khusus, forum ini bertujuan mengidentifikasi potensi ancaman, kerentanan, dan kapasitas wilayah.
Menghimpun usulan kegiatan pengurangan risiko bencana serta meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan
Editor : Akbar Sirinawa