Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Festival Sate Tanjung di Alun-Alun Tioq Tata Tunaq. Kuliner Legendaris yang Mengundang Selera

Habibul Adnan • Sabtu, 4 Juli 2026 | 08:00 WIB
KOMPETISI KULINER: Peserta lomba festival sate Tanjung mempersiapkan pembuatan sate.
KOMPETISI KULINER: Peserta lomba festival sate Tanjung mempersiapkan pembuatan sate.

LombokPost - Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar festival sate Tanjung di Alun-alun Tioq Tata Tunaq, Kamis sore (2/7). Para pesertanya datang dari berbagai desa di KLU.

Sore mulai merambat di Alun-alun Tioq Tata. Sinar matahari keemasan menembus sela-sela tenda.

Di sekelilingnya, daun selada hijau, irisan mentimun, dan potongan tomat membentuk bingkai alami, yang sebentar lagi akan memanjakan lidah para pengunjung.

Di balik meja-meja itu, perempuan-perempuan dengan balutan kebaya dan hijab tampak sibuk.

Ada yang merapikan tusukan sate, mengatur lauk pendamping, membungkus makanan dengan daun pisang, hingga memastikan setiap hidangan tersaji sempurna. 

Aroma bumbu rempah yang mulai menyeruak dari bara pembakaran sate perlahan memenuhi udara, seolah mengundang siapa saja untuk mendekat. Begitulah suasan Festival Sate Tanjung di KLU, Kamis sore (2/7).

Baca Juga: Menjaga Wajah Wisata Lombok Utara dengan Gotong Royong di Kawasan Pusuk

Kegiatan ini bagian dari Bulan Kebudayaan Daerah yang digelar Pemda KLU. Tahun ini mengangkat tema "Setusuk Sate Sejuta Rasa".

Penilaian para juri pun tidak hanya berhenti pada kelezatan rasa. Aroma khas sate menjadi penilaian utama, disusul tekstur daging ikan yang harus tetap lembut dan segar. Cara penyajian ikut menentukan.

"Sebab peserta dituntut mampu menghadirkan tampilan yang memikat dan meninggalkan kesan mendalam bagi dewan juri," kata seorang panitia festival.

Baiq Anita, peserta dari Tim BTN Pemenang Barat mengaku, di samping menyajikan Sate Tanjung, mereka menghadirkan variasi sate kacang ayam dan sate kacang sraten.

Namun, menurut Baiq Anita, cita rasa Sate Tanjung tetap memiliki karakter yang tidak bisa disamakan dengan sate lain.

"Kalau sate ikan khas Tanjung tidak memakai bumbu kacang. Bumbunya menggunakan cabai kecil, cabai besar, terasi, kunyit, dan laos. Itu yang membuat rasanya khas," ujarnya.

Baca Juga: Dewan Dorong Pemda Lombok Utara Optimalisasi PAD

Di balik kelezatan sate yang tersaji, tersimpan filosofi bahwa kuliner adalah bagian dari jati diri masyarakat.

Baiq Mispalah, peserta yang lain meyakini, setiap warga Lombok Utara semestinya memiliki kemampuan membuat Sate Tanjung, meski bukan berprofesi sebagai penjual.

Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, peserta, dan masyarakat yang terlibat.

Menurutnya, Festival Sate Tanjung juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 KLU.

 Najmul juga mengingatkan bahwa Sate Tanjung kini telah memiliki status Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu KLU Dibayar Penuh Lewat APBD Perubahan

Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kuliner khas Lombok Utara telah memiliki perlindungan hukum sehingga tidak dapat diklaim sebagai milik daerah lain.

Editor : Rury Anjas Andita
#festival sate tanjung #kuliner lombok utara #Sate Tanjung #Pemda KLU #Kuliner Khas Lombok