LombokPost - Satria Efendi bergerak secara pasti. Di tengah upaya mengeksplor potensi alam Desa Santong, dia akhirnya menemukan konsep wisata alam yang dipadukan dengan aktivitas bertani.
Di balik rimbunnya hutan Desa Santong, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, tersimpan potensi alam yang belum banyak dikenal orang. Air terjun yang berjejer, kebun kopi dan cengkeh.
Ada juga aneka pangan hutan yang menjadi kekayaan, yang perlahan diperkenalkan kepada wisatawan.
Bukan sekadar untuk berlibur, tetapi juga belajar tentang alam dan ketahanan pangan.
Di balik gagasan tersebut, ada nama Satria Efendi. Bersama sejumlah rekannya, ia mulai merintis pengembangan kawasan itu sejak 2013.
Namun, gerakannya lebih masif pada 2021, setelah serangkaian ekspedisi menyusuri kawasan hutan Santong.
Baca Juga: Rombel SMP-SMA Sekolah Rakyat KLU Sudah Penuh
"Hasil ekspedisi itu kami menemukan sekitar 40 air terjun di Santong," ujar pria asli Desa Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat itu.
Awalnya, konsep yang disusun hanya berfokus pada pengembangan taman wisata alam. Namun, dalam perjalanannya, Satria melihat potensi lain yang tidak kalah besar, yakni sektor pertanian masyarakat.
Menurutnya, hampir seluruh masyarakat Santong menggantungkan hidup dari kebun. Karena itu, pariwisata tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus memberi manfaat langsung kepada para petani.
Ia kemudian membangun komunikasi dengan para pemilik kebun. Dari berbagai diskusi lahirlah konsep wisata alam yang dipadukan dengan aktivitas bertani.
Wisatawan tidak hanya diajak menikmati panorama pegunungan atau menyaksikan air terjun.
Mereka juga diajak masuk ke kebun, belajar menanam kopi maupun cengkeh, hingga mengenal berbagai tanaman pangan yang tumbuh alami di kawasan hutan.
"Kami bukan menjual paket wisata, tetapi menawarkan jasa pengalaman. Orang datang untuk menikmati alam Santong sekaligus belajar tentang kehidupan petani," katanya.
Baca Juga: Sejumlah Pejabat Eselon IV di Lombok Utara di-Non Job Jadi Staf Paling Renda
Pengalaman itu bahkan dimulai sejak wisatawan tiba di desa. Mereka dijemput menggunakan ojek menuju kawasan kebun.
Di sepanjang perjalanan, tamu diajak mencari bahan pangan hutan seperti talas dan berbagai jenis umbi-umbian.
Tak sedikit wisatawan yang penasaran bagaimana cara mengolah bahan-bahan tersebut.
Kesempatan itu dimanfaatkan untuk memberikan edukasi mengenai pangan lokal yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Setelah itu, jelas Satria, perjalanan dilanjutkan mengunjungi sejumlah air terjun dan kawasan hutan. Malam harinya, banyak wisatawan memilih menginap di pondok-pondok sederhana milik petani.
Pondok yang sehari-hari digunakan sebagai tempat beristirahat saat bekerja di kebun itu menjadi pengalaman tersendiri bagi para tamu.
"Kami memang tidak boleh membangun penginapan, jadi wisatawan banyak menginap di pondok petani," jelas pria yang kini tinggal di Tanaq Song, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung itu.
Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu KLU Dibayar Penuh Lewat APBD Perubahan
Selama berada di Santong, wisatawan juga diperkenalkan dengan berbagai kuliner tradisional.
Mulai dari olahan pakis, ares, nangka, hingga berbagai makanan berbahan hasil hutan yang kini mulai jarang dikonsumsi masyarakat.
Hampir setiap pekan selalu ada wisatawan yang datang menikmati pengalaman itu. Tarif yang dikenakan berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per orang.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan wisata Santong belum sepenuhnya mulus. Hingga kini, pengelolaan kawasan masih menghadapi persoalan regulasi.
Satria mengaku telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari kementerian hingga instansi terkait.
Beberapa di antaranya bahkan memberikan sinyal positif agar pengelolaan dilakukan melalui kerja sama kelompok tani dengan pemerintah desa.
Baca Juga: Dewan Dorong Pemda Lombok Utara Optimalisasi PAD
Namun, hingga saat ini skema tersebut belum juga terealisasi. "Kami tidak bisa terus menunggu regulasi. Karena itu kami bergerak melalui konsep jasa, bukan membuka usaha wisata secara penuh," ujarnya.
Ia juga memiliki mimpi lebih besar, yakni membuka jalur wisata yang terintegrasi dengan kawasan Gunung Rinjani.
Menurutnya, peluang kolaborasi itu sangat terbuka. Terlebih Kabupaten Lombok Utara kini tengah mengembangkan peradaban kurma.
"Kalau nanti bisa dikolaborasikan, wisatawan tidak hanya mengenal Rinjani, tetapi juga pertanian dan produk lokal masyarakat," katanya.
Di tengah keterbatasan itu, Satria memilih terus melangkah. Baginya, selama hutan tetap terjaga dan petani memperoleh manfaat, maka wisata Santong telah berjalan sesuai tujuan awalnya.
Yakni menjadikan alam sebagai ruang belajar, sumber pangan, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Editor : Kimda Farida