LombokPost - Petani di Dusun Lempenge, Desa Rempek, Kecamatan Gangga sangat berharap adanya program cetak sawah baru. Lahan kering yang dikelola di tempat ini mampu berproduksi.
Hamparan lahan di Dusun Lempenge, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, belum menyerupai sawah. Belum ada petak-petak pematang yang membelah tanah.
Belum pula terlihat saluran irigasi yang mengalirkan air dari satu bidang ke bidang lainnya.
Yang terbentang masih berupa lahan kering yang selama bertahun-tahun mengandalkan hujan sebagai sumber kehidupan.
Namun, di balik bentang lahan itu tersimpan optimisme para petani. Kelompok Tani (Poktan) Pelita meyakini, lahan yang selama ini ditanami singkong, kacang tanah, semangka hingga padi gogo memiliki potensi besar menjadi areal persawahan baru.
Harapan itu semakin menguat setelah pemerintah pusat menggulirkan program Cetak Sawah Baru di berbagai daerah.
Baca Juga: Realisasi PAD Kabupaten Lombok Utara Triwulan II Lewati Target. Tiga Gili Masih Jadi Andalan
Kepala Dusun Lempenge, Fahrur Rozy mengatakan, masyarakat sangat berharap Lombok Utara ikut mendapatkan alokasi program tersebut.
Roxy mengaku, Poktan Pelita telah membuktikan lahan kering pun mampu menghasilkan panen yang menjanjikan.
Awal 2026, kelompok tani dipercaya menjadi lokasi percontohan budidaya padi gogo.
Hasilnya di luar perkiraan. Produksi gabah mampu mencapai enam ton per hektare pada musim tanam pertama.
Sebelumnya, kelompok tani itu juga sukses menjadi demplot bawang merah dalam program pengendalian inflasi pada 2025.
Beragam komoditas lain seperti singkong, kacang tanah hingga semangka penghasil biji juga telah lama dibudidayakan di kawasan tersebut.
Keberhasilan itu membuat semangat petani semakin besar. Mereka bahkan menargetkan luas tanam padi gogo pada 2027 bisa mencapai sedikitnya 10 hektare.
Baca Juga: Pemda KLU Usulkan 95 Formasi CPNS Tahun Ini
Meski demikian, keterbatasan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini lahan pertanian masih mengandalkan sistem tadah hujan.
Sumur bor memang sudah tersedia, tetapi belum didukung jaringan perpipaan, saluran irigasi maupun pembagian petak sawah yang memadai. Akibatnya, pemanfaatan air belum bisa dilakukan secara efisien.
Rozy menilai, apabila lahan tersebut dicetak menjadi sawah lengkap dengan jaringan irigasi, distribusi air dari sumur bor akan jauh lebih mudah diatur secara bergiliran.
Efisiensi penggunaan air juga akan meningkat sehingga biaya produksi petani dapat ditekan.
Sebab, untuk mengairi lahan saat ini, petani masih harus mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit.
Penggunaan pompa berbahan bakar solar membuat biaya irigasi mencapai sekitar Rp 55 ribu per jam.
Baca Juga: Pemda KLU Pastikan Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil
Selain persoalan air, akses menuju lahan juga menjadi kendala. Jalan pertanian kerap terendam ketika hujan deras sehingga menghambat aktivitas petani mengangkut hasil panen maupun sarana produksi.
Karena itu, selain berharap program Cetak Sawah Baru, masyarakat juga meminta dukungan pembangunan jalan usaha tani. Kemudian jaringan perpipaan, hingga penambahan outlet sumur bor.
Editor : Prihadi Zoldic