Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Anggaran Distribusi Air Bersih Gili Meno Cukup hingga Juli

Habibul Adnan • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:47 WIB
ANGGARAN KURANG: Petugas membawa air ke Gili Meno. Distribusi air diperkirakan hanya cukup hingga Juli.
ANGGARAN KURANG: Petugas membawa air ke Gili Meno. Distribusi air diperkirakan hanya cukup hingga Juli.
 

LombokPost – Distribusi air bersih untuk masyarakat Gili Meno terancam terhenti mulai Agustus 2026.

Anggaran yang dimiliki diperkirakan hanya cukup membiayai penyaluran air hingga akhir Juli.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) M. Zaldy Rahadian mengatakan, realisasi pendistribusian sejauh ini sudah mencapai 80 trip atau sekitar 66,6 persen. Di mana total pagu anggaran yang disediakan Rp 200 juta.

Dengan anggaran sebesar itu, pendistribusian bisa dilakukan sebanyak 120 trip. "Selama dua bulan terakhir, yakni Mei hingga Juni, BPBD rata-rata mendistribusikan 40 trip air bersih setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan warga Gili Meno," kata Zaldy.

Dia memperkirakan, sisa 40 trip hanya cukup sampai bulan Juli. Artinya, untuk bulan berikutnya sudah tidak bisa distribusi air.

"Mulai Agustus, September, dan Oktober sudah tidak ada anggaran yang bisa dieksekusi," ujarnya.

Baca Juga: Bantuan Sosial di Lombok Utara Sasar 560 Lansia dan Disabilitas

Menurut Zaldy, keterbatasan anggaran tahun ini cukup signifikan. Jika pada 2025 alokasi distribusi air bersih melalui Dinas PUPR mencapai Rp 700 juta, tahun ini BPBD hanya mengelola anggaran Rp 200 juta.

Kondisi tersebut, tambahnya, menjadi perhatian serius. Apalagi prediksi BMKG menyebutkan potensi El Nino ekstrem terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.

"Saat kebutuhan air bersih  meningkat, justru anggaran distribusi sudah habis," katanya.

Zaldy menegaskan, distribusi air bersih yang dilakukan BPBD sepenuhnya diprioritaskan bagi kebutuhan masyarakat.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari bantuan sosial sehingga tidak dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha, termasuk perhotelan.

Diakuinya, sejumlah pelaku usaha wisata di Gili Meno sempat mengajukan permintaan distribusi air kepada BPBD.

Baca Juga: Gedung Baru BPBD KLU Mulai Dilelang, Ditarget Rampung Desember

Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. "Karena ini bantuan sosial," tegasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sektor pariwisata, BPBD mengarahkan para pengusaha berkoordinasi dengan PDAM Amerta Dayan Gunung.

"Soal teknis distribusi, harga maupun volumenya bisa dibicarakan," imbuhnya.

Anggota DPRD KLU Ardianto meminta pemerintah daerah segera menyiapkan langkah antisipasi.

Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). 

Baca Juga: Pemda KLU Usulkan 95 Formasi CPNS Tahun Ini

Penggunaan BTT harus dilakukan jika memang kebutuhannya mendesak. Tetapi yang tidak kalah penting adalah langkah-langkah percepatan penyelesaian persoalan air bersih secara permanen.

Ardianto mengingatkan, pola distribusi air bersifat solusi sementara. Sehingga itu tidak dapat menjadi jawaban jangka panjang dalam mengatasi persoalan krisis air di kawasan Tiga Gili.

Editor : Prihadi Zoldic
#krisis air gili meno #Gili Trawangan #Gili Air #Distribusi Air Bersih #Krisis Air Bersih