Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan dari Arab! Ternyata Ini Sejarah Rahasia Halalbihalal yang Pernah Selamatkan Politik Indonesia dari Perpecahan

Marthadi • Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:56 WIB

HALALBIHALAL: Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin saat Halalbihalal bersama seluruh pegawai di lingkungan Pemkab Lotim, Selasa (8/4).
HALALBIHALAL: Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin saat Halalbihalal bersama seluruh pegawai di lingkungan Pemkab Lotim, Selasa (8/4).
LombokPost – Jangan salah sangka, tradisi maaf-memaafkan yang kita sebut Halalbihalal ternyata bukan "barang impor" dari Timur Tengah, melainkan "senjata" ampuh Bung Karno untuk mendamaikan elit politik yang nyaris pecah berkeping-keping!

Momen Idulfitri di Indonesia memang terasa hambar tanpa riuh rendah silaturahmi ini. Namun, mengutip informasi dari Radar Kediri (Jawa Pos Group), fenomena sosial ini sebenarnya adalah produk budaya asli Indonesia yang lahir dari kreativitas ulama dan pemimpin bangsa kita sendiri.

Bukan Sekadar Kata Arab

Meski namanya kental nuansa Arab, istilah ini merujuk pada kata halla yang memiliki makna simbolis yang sangat dalam.

Dalam konteks sosial kita, ada tiga makna utama: benang kusut yang terurai kembali (halal al-habi), air keruh yang diendapkan (halla al-maa), dan meng-halalkan sesuatu (halla as-syai).

Intinya, tradisi ini adalah cara elegan masyarakat Indonesia untuk membuang beban dosa antar-sesama agar hubungan kembali bersih dan "halal" setelah sebulan penuh berpuasa.

Siasat Bung Karno dan Kyai NU

Sejarah mencatat peran krusial KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tahun 1948, saat Indonesia diguncang konflik antar-elit politik yang hebat, Kyai Wahab menyarankan Presiden Soekarno untuk menggelar pertemuan silaturahmi.

Bung Karno kemudian memperkenalkan istilah Halalbihalal sebagai tajuk pertemuan di Istana Negara pada Idulfitri tahun tersebut.

Hasilnya? Momentum ini sukses membawa para tokoh politik duduk satu meja dan merajut kembali persatuan bangsa yang sempat koyak.

Kini, tradisi yang berawal dari meja politik istana tersebut telah mendarah daging di tengah masyarakat, mulai dari instansi pemerintah hingga ke gang-gang sempit di pelosok desa sebagai simbol kemenangan dan perdamaian.

Editor : Marthadi
#tradisi lebaran indonesia #Sejarah Halalbihalal #KH Abdul Wahab Hasbullah #halalbihalal #bung karno