LombokPost - Kemarahan warga Amerika Serikat (AS) terhadap kebijakan Presiden Donald Trump memuncak. Jutaan orang turun ke jalan dalam aksi bertajuk No Kings, Sabtu (29/3) waktu setempat.
Dilansir AFP, aksi itu diklaim diikuti 8 juta orang. Mereka tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di 50 negara bagian AS. Mereka memprotes gaya kepemimpinan Trump yang dinilai otoriter, kebijakan imigrasi yang keras, hingga keputusan menyerang Iran.
Aksi No Kings ini merupakan kali ketiga dalam setahun terakhir.
Protes pertama berlangsung pada Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Trump dan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan warga turun ke jalan dari New York hingga San Francisco.
Aksi kedua pada Oktober diikuti sekitar 7 juta orang. Sementara aksi terbaru disebut menarik tambahan sekitar 1 juta peserta dengan 600 demonstrasi baru.
Istilah No Kings merujuk pada penolakan terhadap kekuasaan presiden yang dianggap terlalu besar, hingga menyerupai raja yang kebal hukum.
Dalam aksi terbaru, makna itu meluas menjadi penolakan terhadap keputusan sepihak Trump melancarkan serangan ke Iran.
Demonstran menilai rencana pengerahan pasukan darat ke Iran sebagai penyalahgunaan kekuasaan, tanpa mempertimbangkan risiko bagi warga sipil maupun tentara AS.
Aksi berlangsung masif di berbagai kota besar dan kecil. Di New York, puluhan ribu orang berkumpul sejak pagi. Aktor Robert De Niro turut hadir dan kembali melontarkan kritik keras terhadap Trump.
Tokoh lain yang terlihat di lapangan, antara lain, Jaksa Agung New York Letitia James, pendeta Al Sharpton, serta Padma Lakshmi. Mereka bergabung dalam long march di kawasan Times Square.
Demonstrasi juga terjadi di Atlanta, San Diego, hingga West Bloomfield, Michigan, meski suhu di bawah titik beku. Di Washington dan Boston, ribuan orang juga memenuhi jalanan.
Para peserta membawa berbagai spanduk, antara lain “Trump Harus Mundur”, “Lawan Fasisme”, hingga “Pro America, Anti Trump”. Sejumlah peserta tampil unik dengan kostum. Di Colorado, seorang demonstran mengenakan kostum Captain America dengan tameng bertuliskan No Kings. Di lokasi lain, ada yang berdandan sebagai Sinterklas sambil membawa sindiran politik. “Dia terus berbohong dan tidak ada yang menghentikan. Ini situasi yang mengerikan,” ujar Robert Pavosevich, 67, kepada AFP.
Mengutip Reuters, aksi juga terjadi di New York, Dallas, Philadelphia, dan Washington.
Namun, sekitar dua pertiga aksi justru berlangsung di luar kota besar, menunjukkan peningkatan partisipasi komunitas kecil hingga hampir 40 persen dibanding aksi pertama.
Di Minnesota, aksi digelar di depan gedung parlemen negara bagian.
Sejumlah peserta membawa foto Renee Good dan Alex Pretti, warga AS yang tewas ditembak petugas imigrasi federal tahun ini.
Gubernur Minnesota Tim Walz menyebut para demonstran sebagai “hati dan jiwa Amerika”.
“Mereka menyebut kita radikal. Ya, kita memang diradikalisasi oleh kasih sayang, keadilan, dan demokrasi,” ujarnya. Senator Bernie Sanders juga menegaskan bahwa rakyat tidak akan membiarkan AS jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki.
Di Los Angeles, aksi sempat ricuh. Dua orang ditangkap setelah diduga menyerang aparat federal. Petugas menggunakan gas air mata setelah massa melempar benda ke arah gedung federal.
Gelombang protes juga meluas ke luar negeri. Warga AS di Prancis, Jerman, Italia, Portugal, dan Yunani ikut menggelar aksi.
Demonstrasi juga berlangsung di kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Di Roma, sekitar 20 ribu orang turun ke jalan dengan pengamanan ketat.
IRGC: Kampus Jadi Target Sah
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengancam akan menargetkan universitas milik AS dan Israel di Timur Tengah.
Ancaman ini muncul setelah AS dan Israel menyerang fasilitas pendidikan di Iran, termasuk Universitas Teknologi Isfahan dan Universitas Sains dan Teknologi di Teheran.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut kampus-kampus milik AS di Timur Tengah sebagai “target sah”.
IRGC juga memperingatkan staf dan mahasiswa untuk menjauh minimal satu kilometer dari lokasi yang berpotensi diserang.
Iran memberi ultimatum hingga Senin kepada pemerintah AS untuk mengecam serangan terhadap universitas di Iran. “Jika tidak, ancaman ini akan dilaksanakan,” tegas IRGC.
Paus: Tuhan Menolak Doa Pemimpin yang Memulai Perang
Ada kejadian menarik dalam khutbah Misa Minggu Palma Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 29 Maret 2026.
Dia mengatakan, Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang. Ini merupakan pernyataan yang luar biasa tegas saat perang Iran memasuki bulan kedua.
Mengutip Reuters, pernyataan tersebut disampaikan di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma, perayaan yang membuka pekan suci menjelang Paskah bagi 1,4 miliar umat Katolik di dunia.
Paus menyebut konflik itu mengerikan dan mengatakan Yesus tidak dapat membenarkan perang apa pun.
“Inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujar Leo, paus pertama AS.
“(Yesus) tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: 'Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah',” sambungnya, mengutip sebuah ayat Alkitab.
Leo memang tidak menyebutkan secara gamblang siapa pemimpin dunia yang dimaksud. Tetapi, Paus telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dalam konflik di Timur Tengah.
Seperti diketahui, beberapa pejabat AS telah menggunakan bahasa Kristen untuk membenarkan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang mulai memimpin kebaktian doa Kristen di Pentagon, berdoa dalam kebaktian pada hari Rabu untuk tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak pantas mendapat belas kasihan. (mia/oni/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida