
LombokPost-Menjalankan diet secara konsisten bukan perkara mudah. Godaan makanan favorit hingga kebiasaan ngemil kerap membuat komitmen diet goyah.
Dokter Spesialis Gizi Ni Luh Eka Suprapti menjelaskan, salah satu penyebab utama seseorang sulit mempertahankan diet dalam jangka panjang adalah penerapan pola makan yang terlalu ekstrem. Pembatasan kalori secara drastis dapat membuat tubuh kelelahan.
“Kondisi ini juga memicu frustrasi ketika penurunan berat badan mulai melambat atau tidak menunjukkan perubahan alias stuck,” jelasnya.
Kesalahan tersebut kerap dilakukan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Misalnya, mengurangi frekuensi makan hingga hanya satu kali sehari, bahkan menghilangkan karbohidrat sama sekali dari menu harian.
Padahal, diet yang terlalu ketat, melewatkan waktu makan, dan membatasi kalori secara berlebihan dapat meningkatkan rasa lapar. Tubuh akan memicu produksi hormon ghrelin, yaitu hormon yang merangsang rasa lapar.
Akibatnya, keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, garam, dan lemak menjadi lebih kuat. “Diet seperti ini tidak akan dapat berjalan dalam jangka panjang,” kata dia.
Pembatasan asupan yang berlebihan juga dapat memperlambat metabolisme tubuh. Ketika asupan energi terlalu sedikit, tubuh berusaha menghemat energi untuk mempertahankan fungsinya.
Dampaknya, penurunan berat badan yang diharapkan tidak tercapai secara maksimal. Dokter Eka menjelaskan, penurunan berat badan secara drastis akibat diet ekstrem belum tentu menunjukkan berkurangnya massa lemak tubuh. Sebab, berat badan yang turun justru bisa didominasi oleh kehilangan air dan massa otot.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




