Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Data BMKG 19 Maret 2026: Ketinggian di Bawah 3 Derajat, Akankah Idulfitri 1447 H Berpotensi Beda Hari?

Nurul Hidayati • Kamis, 12 Maret 2026 | 19:00 WIB

Ilustrasi Wujud Bulan
Ilustrasi Wujud Bulan

LombokPost - Teka-teki mengenai jatuhnya Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah mulai menemui titik terang secara saintifik.

Berdasarkan data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), posisi hilal pada saat matahari terbenam Kamis, 19 Maret 2026, berada pada posisi yang sangat rendah dan menjadi ujian bagi kriteria baru yang ditetapkan pemerintah.

Meskipun konjungsi (ijtima') dipastikan terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh Indonesia, data menunjukkan bahwa parameter hilal belum sepenuhnya memenuhi ambang batas minimal MABIMS.

Data Astronomis: Hilal Masih "Rendah"

Berdasarkan kriteria MABIMS yang diadopsi Pemerintah Indonesia, hilal dianggap sah jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Namun, data BMKG menunjukkan angka-angka berikut.

Ketinggian Hilal: Hanya berkisar antara 0,91° (Merauke) hingga 3,13° (Sabang). Di sebagian besar wilayah Indonesia, posisi hilal masih berada di bawah 3 derajat.

Elongasi: Berkisar antara 4,54° hingga 6,1°. Angka ini terpantau masih berada di bawah syarat minimal 6,4 derajat.

Umur Bulan: Sangat muda, yakni berkisar antara 7 hingga 10 jam saja saat matahari terbenam.

Potensi Perbedaan Penentuan Lebaran

Kondisi astronomis yang berada di ambang batas kritis ini membuka ruang diskusi bagi para ahli hisab dan rukyat. Bagi ormas atau penganut metode Wujudul Hilal (selama hilal di atas ufuk), besar kemungkinan 1 Syawal jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Namun, bagi pemerintah yang menggunakan kriteria Imkanur Rukyat (MABIMS), posisi hilal yang di bawah 3 derajat dan elongasi di bawah 6,4 derajat ini secara teknis belum memenuhi syarat. Jika hilal gagal terlihat (rukyat) pada petang 19 Maret, maka ada potensi bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idulfitri versi pemerintah bisa jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Fenomena Saturnus di Dekat Bulan

Ada hal menarik pada pengamatan kali ini. BMKG mencatat bahwa pada petang 19 Maret 2026, planet Saturnus akan tampak sangat dekat dengan posisi bulan (jarak sudut kurang dari 10°). Kehadiran planet bercincin ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi petugas rukyat di lapangan agar tidak keliru mengidentifikasi cahaya planet sebagai cahaya hilal.

Tunggu Sidang Isbat

Masyarakat NTB dihimbau untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Di wilayah NTB sendiri, waktu matahari terbenam pada 19 Maret terjadi sekitar pukul 18.23 WITA. Petugas dari Kemenag NTB dan BMKG akan melakukan pemantauan langsung di titik-titik rutin seperti Pantai Loang Baloq dan pusat pengamatan lainnya di daerah.

Keputusan akhir tetap menunggu Sidang Isbat Kementerian Agama RI. Data ini adalah panduan ilmiah. Mari tunggu hasil verifikasi faktual di lapangan dan keputusan resmi pemerintah guna menjaga kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.

Editor : Kimda Farida
#Indonesia #MABIMS #lebaran #bmkg #Hilal