LombokPost-Michael Carrick tidak butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa DNA pemenang masih mengalir deras di nadinya.
Dalam dua laga pembuka yang bak neraka, ia menyapu bersih kemenangan melawan Manchester City dan Arsenal, sebuah pencapaian yang bahkan gagal dilakukan pendahulunya dalam setahun terakhir.
Bagi the Red Devils, kehadiran Carrick terasa seperti kepulangan sang juru selamat yang membawa kembali setelan pabrik United: serangan balik kilat dan mentalitas pantang menyerah.
Carrick tak hanya memberikan tiga poin, ia mengembalikan harapan yang sempat terkubur di bawah puing-puing taktik Ruben Amorim yang kaku.
Derby Manchester: Matinya Dominasi Pep di Tangan Carras
Debut Carrick di Old Trafford (17/1) berakhir dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Manchester City.
Media internasional seperti The Guardian menyebutnya sebagai "Quick Fix" yang sempurna, di mana United tampil lebih disiplin dan berani menusuk langsung ke jantung pertahanan lawan tanpa basa-basi.
Alih-alih mencoba menguasai bola, Carrick memilih efisiensi yang mematikan lewat kaki Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu.
United menunjukkan pertahanan "anjing gila" yang membuat City frustrasi, membuktikan bahwa identitas klub ini adalah tentang serangan vertikal, bukan sekadar umpan-umpan pendek yang membosankan.
Invasi London: Saat Meriam London Melempem di Menit Akhir
Ujian sesungguhnya terjadi di Emirates Stadium (25/1), di mana Arsenal yang sedang on-fire dipaksa tunduk 2-3.
Laga ini menunjukkan fleksibilitas taktik Carrick; ia tahu kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan "tarian maut" Matheus Cunha untuk membungkam publik London Utara.
Poin kunci yang membuat dua laga awal Carrick begitu spesial:
Keberanian Memasang Pemain Muda: Patrick Dorgu menjadi bintang baru dengan mencetak gol di kedua laga besar tersebut.
Efisiensi Serangan Balik: United tidak butuh banyak peluang. Di Emirates Stadium, mereka mencetak 3 gol hanya dari 3 tembakan tepat sasaran.
Vibe Change: Carrick berhasil mengubah suasana ruang ganti dari tekanan menjadi optimisme hanya dalam hitungan hari.
Bukan Sekadar Keberuntungan Pemula
Beberapa analis di Sky Sports mulai membandingkan awal Carrick dengan masa awal Solskjaer, namun ada perbedaan mendasar: kematangan taktik.
Carrick tidak hanya mengandalkan semangat, tapi juga detail penempatan posisi pemain seperti Kobbie Mainoo yang menjadi jembatan sempurna dalam transisi.
Kini, bola panas ada di tangan manajemen Manchester United.
Jika performa "pembunuh raksasa" ini terus berlanjut, rasanya akan menjadi sebuah langkah mubazir jika MU memaksakan diri mendatangkan pelatih kelas dunia dengan kontrak selangit, sementara Carrick sudah membuktikan kelasnya
Editor : Akbar Sirinawa