LombokPost - Untuk mengejar Inter Milan di puncak klasemen, dibutuhkan dua belas kemenangan dari tiga belas pertandingan.
Hal itu seperti yang dikatakan pelatih AC Milan Massimiliano Allegri.
Dan AC Milan kemarin sudah kalah melawan Parma, artinya mulai besok, harus meraih semua tiga puluh enam poin yang tersisa, alias sapu bersih.
Baca Juga: Kembali ke Setelan Pabrik, AC Milan Lemah Melawan Tim Papan Bawah
"Bonus kekalahan" bagi AC Milan sudah habis, dan kini wajib menang terus untuk mencegah Inter Milan meraih scudetto dengan mudah.
Kekalahan pertama AC Milan setelah dua puluh empat pertandingan, membuat rekor musim ini telah berakhir.
Sembari bekerja keras meraih kemenangan, AC Milan juga perlu berharap Inter Milan tiba-tiba banyak mengalami kekalahan.
Tapi, secara matematis harus diakui, sejak kejalahan AC Milan kemarin, persaingan perebutan gelar juara seolah sudah tertutup.
Itu karena keunggulan teknis Nerazzurri yang jelas atas para rival mereka, selisih Inter Milan dan AC Milan kini 10 poin.
Inter Milan tidak lagi tersandung di kompetisi domestik, sementara tim-tim yang mengejar, termasuk AC Milan juga Napoli kurang konsisten dan gagal memanfaatkan peluang bahkan ketika seharusnya.
Baca Juga: Topskor Sementata AC Milan Christian Pulisic Sedang Jalani Masa Sulit Paceklik Gol
Catatan penting bagi AC Milan untuk laga kontra Parma adalah, hasil imbang di pertemuan pertama, dan kekalahan di pertemuan kedua.
Dalam pertandingan itu, Luka Modric yang tidak dalam performa terbaiknya, Adrien Rabiot bahkan lebih buruk lagi.
Kemudian Rafael Leao terus dikorbankan dalam peran yang bukan spesialisnya, sejumlah kalangan mengkritisi menempatkannya sebagai penyerang tengah adalah pemborosan.
Pemain Portugal ini adalah pemain sayap yang harus menunjukkan kemampuan dribbling-nya di sisi lapangan AC Milan.
Sebagai pemain nomor 9, Rafael Leao kurang lincah dan lebih mudah dijaga, karena dia bukanlah striker AC Milan sesungguhnya. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic