LombokPost - Mantan manajer Crystal Palace, Alan Pardew, memperingatkan bahwa karier dan impian Eberechi Eze di Arsenal kini berada dalam ancaman serius. Pemain tim nasional Inggris tersebut dinilai kesulitan beradaptasi dengan sistem taktik racikan Mikel Arteta sehingga berisiko terpinggirkan dari skuad utama.
Eze sebelumnya melakoni kepindahan berprofil tinggi dari Crystal Palace menuju London utara pada bursa transfer musim panas lalu. Meski sukses menutup musim perdananya dengan meraih trofi Premier League, kontribusinya dinilai belum maksimal di luar dua penampilan menonjol saat menghadapi Tottenham Hotspur.
Performa sang gelandang di musim debutnya tersebut bahkan diwarnai kekecewaan saat gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Setelah hanya memainkan peran minor di Piala Dunia, situasi Eze tidak banyak berubah pada bulan-bulan awal musim ini seiring pulihnya Martin Odegaard ke posisi nomor sepuluh.
Baca Juga: Rio Ngumoha Tepis Rumor Transfer Arsenal, Fokus di Liverpool
Kesempatan unjuk gigi datang pada laga hari Minggu lalu saat Eze dipasang sebagai penyerang sayap kiri menggantikan Christos Tzolis yang absen. Namun, ia ditarik keluar pada jeda babak pertama dan posisinya digantikan oleh Noni Madueke yang akhirnya sukses mencetak gol kemenangan.
"Melihat cara Arteta mengatur peran nomor sepuluh, saya tidak melihat Eze akan banyak bermain di sana. Ada tuntutan peran defensif nyata pada posisi itu yang disukai Arteta dan mampu dilakukan Odegaard, sedangkan Eze tidak melakukannya," ujar Alan Pardew kepada talkSPORT.
Pardew menilai Arteta tidak merasa nyaman memainkan Eze di pos sentral tersebut dalam laga-laga besar. Ia berpendapat bahwa Eze kemungkinan hanya akan diberi kesempatan bermain di posisi gelandang serang nomor sepuluh saat melawan tim yang kualitasnya lebih rendah.
Baca Juga: Noni Madueke Berpeluang Starter Arsenal Lawan Bayern Munich
"Saya pernah melihatnya bermain di sisi kiri beberapa kali untuk Crystal Palace dan itu bukan karakternya. Dia tipe pemain yang ingin menusuk ke tengah dan membuat permainan menyempit, sehingga tim kehilangan lebar lapangan," tutur Pardew menegaskan alasan Arteta mengganti sang pemain.
Menurut Pardew, Arteta ke depannya lebih tepat memanfaatkan Eze dari bangku cadangan sebagai pengubah keadaan di menit-menit akhir pertandingan. "Jika Arteta membutuhkan gol, saya rasa Eze tidak akan menjadi starter, melainkan dimasukkan untuk memanfaatkan momen pada 10 atau 15 menit terakhir pertandingan," pungkas Pardew.
Editor : Pujo NugrohoSumber : metro.co.uk