LombokPost - Upaya Elon Musk untuk menghubungkan otak manusia langsung dengan sistem komputasi semakin memasuki tahap ambisius.
Neuralink, perusahaan antarmuka otak-komputer miliknya, kini bersiap meninggalkan fase uji klinis awal dan beralih ke produksi masal implan otak.
Direncanakan akan memulai produksi massalnya.
”Neuralink akan memulai produksi masal perangkat antarmuka otak-komputer dan beralih ke prosedur bedah yang efisien serta hampir sepenuhnya otomatis pada 2026,” tulis Musk melalui platform media sosial miliknya, X.
Neuralink memulai uji coba manusia pada 2024 setelah mengatasi sejumlah kekhawatiran keselamatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA), yang sebelumnya menolak permohonan uji coba pada 2022.
Hingga akhir 2025, perusahaan melaporkan bahwa sekitar 12 pasien dengan kelumpuhan parah di berbagai negara telah menerima implan otak.
Implan yang dikembangkan Neuralink ditujukan untuk membantu pasien dengan gangguan saraf berat, termasuk cedera tulang belakang dan kelumpuhan.
Perangkat ini berukuran kecil dan dilengkapi untaian elektroda fleksibel yang ditanam langsung ke otak.
“Untaian kabel perangkat akan menembus selaput pelindung otak (dura) tanpa perlu mengangkatnya. Ini adalah pencapaian yang sangat penting,” imbuh Musk.
Rehabilitasi Neurologis. Salah satu pasien awal, Noland Arbaugh – pasien pertama yang menerima implan pada Januari 2024 – menyatakan bahwa perangkat tersebut memungkinkannya kembali berinteraksi secara aktif dengan dunia digital. Ia dapat menggerakkan kursor, berselancar di internet, hingga bermain gim video tanpa bantuan gerakan fisik. Ini menunjukkan potensi besar teknologi bagi rehabilitasi neurologis.
Himpun Dana Rp10,9 Triliun
Dari sisi pendanaan, Neuralink memperkuat fondasinya. Pada Juni 2025, perusahaan berhasil menghimpun dana USD 650 juta (sekitar Rp10,9 triliun) yang akan digunakan untuk memperluas uji klinis dan mendukung persiapan produksi masal.
Meski demikian, perluasan teknologi implan otak tetap dibayangi tantangan serius. Isu keselamatan jangka panjang, etika medis, serta keandalan sistem bedah otomatis menjadi sorotan para ahli. Transisi menuju operasi berbasis robot dinilai menjanjikan efisiensi, tetapi menuntut pengawasan ketat dan validasi klinis berkelanjutan. (din/dns/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida