Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Miliarder Teknologi Ramai-Ramai Tanamkan Modal di Greenland, Termasuk Gates, Bezos, dan Altman

Lombok Post Online • Rabu, 14 Januari 2026 | 11:00 WIB

 

KAYA MINERAL: Kawasan Greenland, wilayah otonom Denmark, menarik minat para miliarder teknologi dunia untuk berinvestasi di sana. Bill Gates termasuk yang sudah melakukannya via KoBold Metals.
KAYA MINERAL: Kawasan Greenland, wilayah otonom Denmark, menarik minat para miliarder teknologi dunia untuk berinvestasi di sana. Bill Gates termasuk yang sudah melakukannya via KoBold Metals.
 

LombokPost - Ketertarikan Amerika Serikat memiliki kendali lebih besar atas Greenland.

Ini mendorong sejumlah miliarder teknologi dunia mulai menanamkan modal strategis di wilayah kaya mineral tersebut.

Di antaranya pendiri Microsoft Bill Gates, Jeff Bezos (pemilik Amazon, Blue Origin, dan The Washington Post), dan CEO OpenAI Sam Altman.

Investasi Mineral

Dilansir dari Forbes, keterlibatan para miliarder teknologi itu tercermin dari investasi mereka di KoBold Metals sejak 2019. ”Bezos dan Gates telah berinvestasi di KoBold Metals, perusahaan yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menemukan mineral kritis yang dibutuhkan industri modern,” tulis Forbes. Pada Desember 2024, Breakthrough Energy—dana iklim milik Gates—juga ikut serta dalam putaran pendanaan Seri C dengan nilai mendekati USD 3 miliar (Rp 50,6 triliun).

Altman, juga tercatat sebagai salah satu investor KoBold Metals melalui partisipasinya dalam pendanaan Seri B pada 2022 yang bernilai total USD 192,5 juta (Rp 3,24 triliun). Meski para miliarder tersebut menolak memberikan komentar publik, dokumen pengajuan ke otoritas pasar modal Amerika Serikat pada Januari 2026 menunjukkan bahwa KoBold Metals masih membuka peluang pendanaan lanjutan.

Freedom City

Seiring investasi mineral, wacana pembangunan freedom city istilah yang digunakan untuk menggambarkan kota baru dengan tingkat fleksibilitas regulasi yang tinggi di Greenland turut mencuat. Konsep kota futuristik dengan regulasi minimal tersebut kerap dikaitkan dengan kalangan investor teknologi Silicon Valley.

Dryden Brown, salah satu pendiri startup Praxis yang mengeksplorasi pembangunan kota berteknologi tinggi, menyebut Greenland sebagai lokasi potensial bagi proyek mereka. Dalam unggahan di platform X, Brown menyebut Terminus nama konsep kota futuristik yang dikembangkan Praxis sebagai prototipe awal.

”Kita harus membangun prototipe Terminus di Bumi sebelum berangkat ke Mars. Saya percaya Greenland adalah tempatnya,” tulis Brown, seperti dikutip Reuters. Praxis didukung sejumlah tokoh teknologi, termasuk Peter Thiel dan Altman.

Tuai Kritik

Gagasan tersebut tak pelak menuai kritik dari kalangan akademisi dan pengamat kebijakan di Eropa. Anne Merrild, profesor keberlanjutan dan perencanaan di Universitas Aalborg, Denmark, menegaskan bahwa Greenland bukanlah wilayah kosong. ”Greenland bukan ruang hampa yang menunggu untuk dieksperimenkan. Wilayah ini memiliki komunitas, institusi demokratis, dan rasa penentuan nasib sendiri yang kuat,” tuturnya.

Merrild menambahkan bahwa setiap bentuk pembangunan, termasuk konsep kota jaringan atau freedom city, harus sejalan dengan hukum Greenland, nilai sosial setempat, serta tujuan jangka panjang masyarakatnya. (din/dns/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#Investor #Amerika Serikat #Greenland #mineral #perusahaan