LombokPost - DONALD Trump menepuk dadanya sendiri dengan menyebut operasi militer di Iran melampaui ekspektasi.
Tapi, di negaranya sendiri kecaman dan hujatan disuarakan berbagai pihak, terutama setelah tiga tentara Amerika Serikat (AS) tewas akibat serangan balasan Iran.
Selain tiga yang meninggal, lima tentara AS lainnya terluka. Sedangkan sejumlah lainnya mengalami luka ringan.
“Mereka dalam proses untuk kembali bertugas,” kata Pusat Komando Militer AS seperti dikutip Middle East Eye.
Menurut NBC News yang mengutip sejumlah pejabat AS, peristiwa itu terjadi di Kuwait. Negara tersebut memang termasuk yang diserang Iran karena ada fasilitas militer AS di sana.
Bahkan politikus Republik, partai asal Trump, pun ikut meradang.
“Insiden ini benar-benar tak perlu terjadi dan tak bisa diterima,” Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres AS dari Partai Republik, seperti dia tulis di X.
Senator dari Demokrat Chris Van Hollen juga mengkritik eskalasi di Timur Tengah yang terjadi.
“Saya tak bisa melupakan tentara Amerika pemberani yang terbunuh. Mereka harusnya ada bersama kita,” katanya.
Tak Dimaui Rakyat AS
Jurnalis Ana Kasparian sebelumnya sudah mengingatkan, serangan Iran akan memicu krisis berkepanjangan.
“Tentara kita di Israel sekarang untuk membela Israel. Apakah Israel yang menanggung biayanya? Apa mereka yang keluar duit miliaran dolar per tahun untuk militer kita? TIDAK!” katanya dalam sebuah video.
Bahkan sosok dalam gerakan Make America Great Again yang dipandegani Trump Tucker Carlson juga ikut mengecam serangan ke Iran.
“Serangan AS-Israel benar-benar menjijikkan dan jahat,” katanya kepada ABC News on Saturday.
Puluhan aksi protes disponsori oleh koalisi kelompok sayap kiri, misalnya Koalisi ANSWER, Dewan Nasional Iran-Amerika, 50501, Muslim Amerika untuk Palestina, Forum Rakyat, Gerakan Pemuda Palestina, CodePink, Aliansi Hitam untuk Perdamaian, dan Sosialis Demokrat Amerika, juga berlangsung di Gedung Putih Washington DC dan Times Square Garden New York.
Wali Kota New York menyebut serangan terhadap Iran menandai eskalasi bencana dalam perang yang ilegal.
“Membom kota-kota. Membunuh warga sipil. Membuka medan perang baru. Rakyat Amerika tidak menginginkan ini,” ujarnya. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida