Tanpa ampun, Negeri Jiran menjadi negara pertama di dunia yang berani angkat kaki dari kesepakatan tarif resiprokal Washington, sebuah langkah nekat yang diprediksi bakal memicu gelombang perlawanan massal dari negara-negara mitra AS lainnya.
Melansir dari laman jawapos.com yang mengutip StratNews Global, keputusan berani ini diumumkan langsung oleh Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Johari Abdul Ghani, pada 15 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Malaysia dan AS kini sudah tidak berlaku lagi dan batal sepenuhnya.
Dikhianati Kebijakan AS?
Keputusan ekstrem ini bukan tanpa alasan. Semua bermula saat Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2026 membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang menjadi fondasi utama perjanjian tersebut.
Pengadilan menyatakan bahwa Presiden AS tidak punya wewenang menerapkan tarif luas tersebut, sehingga dasar hukum perjanjian yang ditandatangani oleh PM Anwar Ibrahim dan Donald Trump pada Oktober 2025 itu praktis lenyap.
Ironisnya, setelah kebijakan lama dibatalkan, AS justru menerapkan tarif seragam sebesar 10% kepada seluruh mitra dagang melalui mekanisme Section 122.
Hal ini membuat keuntungan khusus yang diperjuangkan Malaysia—seperti penurunan tarif ekspor dari 47% menjadi 19%—menjadi sia-sia karena negara tanpa perjanjian pun mendapatkan tarif yang sama.
Indonesia dan Negara Lain Terancam Langkah Malaysia ini menjadi sinyal merah bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Selama ini, negara-negara seperti Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, hingga Indonesia telah memberikan berbagai konsesi kebijakan kepada AS demi mendapatkan tarif khusus.
Namun, dengan hilangnya manfaat ekonomi yang jelas, relevansi mempertahankan perjanjian yang "mahal secara politik" tersebut kini mulai dipertanyakan.
Apalagi, tekanan dari Washington belum berhenti. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) baru saja meluncurkan investigasi baru yang mengincar ekonomi besar, menunjukkan bahwa negara yang sudah bernegosiasi pun tetap berisiko terkena tarif tambahan.
Kini dunia menanti, apakah langkah berani Malaysia "menendang" AS akan segera diikuti oleh Indonesia dan negara-negara mitra lainnya?