LombokPost - Kritik terhadap perang Iran yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian tajam. Sejumlah pengamat dan pembaca media internasional menilai konflik ini telah kehilangan arah, bahkan disebut berjalan “di luar nalar”.
Dalam sejumlah surat pembaca dan opini yang berkembang, perang ini digambarkan bukan lagi sebagai operasi strategis yang terukur, melainkan eskalasi yang tidak memiliki tujuan jelas. Dunia semakin tidak percaya pada arah perang yang dirancang Donald Trump terhadap Iran.
“Dunia sedang menyaksikan dua negara kuat berperang untuk mencegah negara lain memiliki senjata yang sama,” tulis David Tayler dari Bristol, seperti dikutip Sabtu (4/4).
Ia menilai kondisi ini menciptakan kekacauan global yang dampaknya meluas jauh melampaui Timur Tengah.
Menurutnya, jika pola ini menjadi “tatanan dunia baru”, maka negara lain bisa merasa memiliki legitimasi untuk melakukan hal serupa—mengambil wilayah atau bertindak sepihak dengan alasan keamanan.
“Ini memberi lampu hijau bagi aktor lain untuk bertindak,” tulisnya.
Baca Juga: Irak di Ambang Kekacauan, Serangan Datang dari Segala Arah
Kritik juga diarahkan pada inkonsistensi tujuan perang yang selama ini disampaikan pemerintah AS. Narasi yang berubah-ubah—dari menghentikan nuklir hingga mengganti rezim—dinilai tidak mencerminkan strategi yang matang.
Dalam salah satu opini, disebut bahwa istilah operasi militer yang digunakan, seperti “Epic Fury”, justru menggambarkan pendekatan emosional, bukan rasional.
“Ini bukan tentang strategi. Ini tentang pelampiasan,” tulis salah satu pengamat.
Sebagian kritik bahkan menyentuh dimensi yang lebih dalam—menilai perang ini didorong oleh ambisi pribadi dan simbolisme kekuasaan, bukan kepentingan geopolitik yang terukur.
“Perang ini terlihat seperti upaya menunjukkan kekuatan, bukan menyelesaikan masalah,” tulisnya.
Baca Juga: Implementasi Kebijakan HKPD Jadi Pemicu PAD Turun
Di tengah kritik tersebut, muncul pula seruan aksi dari masyarakat sipil. Beberapa pihak mengusulkan tekanan non-militer, seperti boikot produk atau isolasi sosial terhadap negara-negara yang terlibat konflik, meniru strategi global yang pernah digunakan terhadap rezim apartheid di Afrika Selatan.
Namun, efektivitas langkah tersebut masih menjadi perdebatan.
Yang jelas, opini publik global mulai bergerak. Narasi perang yang semula dibungkus sebagai upaya keamanan kini dipertanyakan secara terbuka.
Dan di tengah medan tempur yang terus meluas, satu pertanyaan mulai mengemuka:
Apakah perang ini masih memiliki tujuan—atau sekadar terus berjalan tanpa arah?
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin