Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rangkuman Terkini Iran vs AS-Israel: Dua Negara Berpacu Cari Pilot hingga Hormuz Mulai Dibuka

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 4 April 2026 | 22:42 WIB
Puing jet tempur AS yang dilumpuhkan Iran.
Puing jet tempur AS yang dilumpuhkan Iran.

 

LombokPost - Perlombaan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menemukan awak jet tempur AS yang jatuh di wilayah Iran menjadi salah satu fokus utama perkembangan terbaru perang di Timur Tengah. Di saat yang sama, Selat Hormuz mulai kembali dilintasi sejumlah kapal, meski situasi keamanan di kawasan tetap rapuh dan penuh risiko.

 

“Pencarian masih terus berlangsung,” demikian gambaran situasi setelah dua insiden pesawat militer AS dilaporkan jatuh dalam waktu berdekatan, seperti dikutip Sabtu (4/4).

 

Iran menyatakan telah menembak jatuh jet tempur F-15 di wilayah barat daya negaranya pada Jumat. Ini menjadi kali pertama jet tempur Amerika ditembak jatuh di atas Iran sejak perang meletus. Laporan media Amerika menyebut satu dari dua awak pesawat sudah berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus AS, sementara satu awak lainnya masih hilang dan terus dicari.

 

Media pemerintah Iran bahkan mengimbau warga di provinsi Kohgiluyeh-Boyer Ahmad dan Khuzestan untuk ikut mencari awak pesawat tersebut. Di saat bersamaan, Korps Garda Revolusi Iran disebut juga menyisir area tempat pesawat itu diduga jatuh.

 

Selain insiden F-15, media Iran juga melaporkan sebuah pesawat serang darat A-10 milik AS jatuh di Teluk Persia setelah terkena serangan pertahanan Iran. Namun seorang pejabat Amerika, menurut Reuters, menyatakan belum jelas apakah pesawat itu benar-benar ditembak jatuh atau mengalami kecelakaan. Laporan media AS menyebut pilot pesawat itu telah berhasil dievakuasi.

Baca Juga: Dikubur Dua Kali, Duka Warga Lebanon Tak Pernah Selesai

Di tengah memburuknya situasi militer, pergerakan kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan celah. Menteri Perhubungan Turki Abdulkadir Uraloglu mengatakan kapal kedua milik Turki telah berhasil melintasi selat tersebut.

 

“Dari 15 kapal milik Turki yang berada di selat saat perang pecah, dua sudah keluar,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, empat kapal lain belum meminta keluar, terdiri dari dua kapal energi dan dua kapal yang terlibat dalam perdagangan regional. Pemerintah Turki, kata dia, sedang berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk membantu sembilan kapal lainnya keluar dari kawasan.

 

Perkembangan ini penting karena Selat Hormuz merupakan jalur vital yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski secara efektif masih tercekik oleh ancaman Iran terhadap pelayaran, beberapa kapal mulai mendapat izin melintas. Salah satunya adalah kapal kontainer milik perusahaan Prancis CMA CGM, yang disebut menjadi kapal pertama dari operator pelayaran Barat yang berhasil melintas aman sejak perang dimulai pada 28 Februari.

 

Namun ketegangan kawasan belum mereda. Di Irak, otoritas menutup perlintasan perbatasan Shalamcheh dengan Iran setelah serangan udara di sisi Iran menewaskan seorang warga Irak dan melukai lima lainnya. Aparat keamanan Irak menyebut para korban telah dievakuasi ke rumah sakit, sebagian dalam kondisi kritis.

 

Baca Juga: Dari Nuklir ke Minyak, Narasi Perang Trump Berubah Tiap Hari


Penutupan ini berpotensi mengganggu arus masuk sayuran dan bahan pangan lain dari Iran ke Irak, karena Shalamcheh merupakan salah satu jalur utama perdagangan darat di kawasan selatan.

 

Di Lebanon, perang juga terus menjalar. Rumah sakit di kota Tyre dilaporkan rusak setelah serangan Israel menghantam bangunan di sekitarnya. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut 11 orang terluka.

 

Direktur Rumah Sakit Italia Lebanon menegaskan, “Rumah sakit akan tetap buka untuk memberikan pelayanan medis yang diperlukan.”

 

Militer Israel sebelumnya juga kembali mengeluarkan perintah evakuasi untuk warga Tyre dan sekitarnya. Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyebut aktivitas Hezbollah memaksa militer bertindak keras. Ia meminta warga segera meninggalkan rumah dan bergerak ke utara Sungai Zahrani.

 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis laporan yang menyebut Teheran menolak pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan.

 

Baca Juga: 340 Anak Tewas, Perang Ini Jadi Neraka Bagi Generasi Kecil


“Kami tidak pernah menolak pergi ke Islamabad,” tulis Araghchi.

Ia menambahkan bahwa yang dipentingkan Iran adalah syarat-syarat untuk mengakhiri perang secara tuntas dan berkelanjutan.

 

Pernyataan itu lalu disambut Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, yang menyatakan menghargai klarifikasi dari Teheran.

 

Di luar garis depan militer, dampak kemanusiaan perang juga semakin mencemaskan. UNICEF menyebut lebih dari 340 anak dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka sejak serangan AS dan Israel ke Iran dimulai. Perang di Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat juga memperluas krisis anak di kawasan.

 

“Anak-anak di kawasan ini terpapar kekerasan yang mengerikan,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.

“Pada saat yang sama, sistem dan layanan yang seharusnya melindungi mereka justru ikut diserang.”

 

Baca Juga: BBM Naik 42 Persen, Pakistan Gratisin Transportasi Demi Redam Amarah

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#jet tempur #selat hormuz #pilot #as