Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketegangan di Selat Hormuz: Militer Iran Balas Serangan Kapal Tanker oleh Pasukan AS

Redaksi Lombok Post • Jumat, 8 Mei 2026 | 10:26 WIB
KIAN PANAS: Kapal perang AS USS Abraham Lincoln melakukan operasi blokade di Laut Arab pada Kamis (16/4). Akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump ini peluang damai dengan Iran terancam. Terlebih setelah kapal kargo berbendera Iran disita oleh AS. (AFP)
KIAN PANAS: Kapal perang AS USS Abraham Lincoln melakukan operasi blokade di Laut Arab pada Kamis (16/4). Akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump ini peluang damai dengan Iran terancam. Terlebih setelah kapal kargo berbendera Iran disita oleh AS. (AFP)

LombokPost– Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Iran meluncurkan serangan balasan terhadap kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas dugaan agresi pasukan AS terhadap kapal tanker minyak Iran di perairan strategis tersebut.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan respons tegas terhadap serangkaian pelanggaran hukum yang dilakukan militer AS di sepanjang garis pantai selatan Iran.

Seperti dilansir PressTV  mengutip pernyataan Zolfaghari pada Kamis (7/5/2026), militer AS yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang sedang melintas dari wilayah Jask menuju Selat Hormuz.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, insiden serupa menimpa kapal Iran lainnya saat memasuki wilayah Selat Hormuz, tepatnya di seberang Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Selain serangan di laut, pihak Iran juga melaporkan adanya serangan udara yang menyasar daerah sipil di provinsi pesisir seperti Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm.

Baca Juga: Kapal AS Dekati Selat Hormuz, Iran Lepas Tembakan Peringatan

Menanggapi tindakan tersebut, Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran segera melancarkan operasi balasan. Serangan dilakukan dengan melibatkan kapal-kapal militer AS yang berada di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Bandar Chabahar.

Zolfaghari mengeklaim bahwa operasi tersebut menimbulkan "kerusakan signifikan" pada kapal-kapal perang Amerika. Berdasarkan laporan media setempat, unit rudal dan angkatan laut Iran menghujani posisi musuh dengan tembakan yang memaksa armada AS untuk mundur dari lokasi.

Ia juga memberikan peringatan keras kepada Washington dan sekutu regionalnya agar tidak melanjutkan aksi provokasi. Zolfaghari menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap tindakan agresi atau pelanggaran "dengan kuat dan tanpa sedikit pun keraguan."

Insiden ini terjadi hanya berselang satu hari setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan menangguhkan 'Proyek Kebebasan'. Operasi tersebut semula dirancang untuk membuka paksa akses di Selat Hormuz, namun dihentikan hanya dalam waktu 48 jam.

Seorang pejabat militer senior Iran mengonfirmasi kepada IRIB bahwa unit-unit penyerang yang terlibat dalam agresi terhadap kapal tanker di Teluk Oman menderita serangan langsung. Kondisi ini memaksa pasukan tersebut untuk mundur dalam keadaan kacau setelah dihujani tembakan rudal Iran yang hebat.

Hingga saat ini, eskalasi di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia ini terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional guna menghindari konflik terbuka yang lebih luas.

Editor : Redaksi Lombok Post
#gencatan senjata #selat hormuz #amerika #iran #as