LombokPost-Harga komoditas cabai di pasar tradisional di 10 kabupaten/kota di NTB terus merangkak naik.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan NTB per 23 Desember 2024, harga cabai mengalami kenaikan hingga 21 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Kenaikan 21 persen ini terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Yakni dari Rp 28.550 menjadi Rp 36.317 atau naik sebesar Rp 7.767 per kilogramnya. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada 20 Desember 2024 yang hanya sebesar 1 persen atau Rp 367 per kilogramnya.
Kemudian disusul cabai merah besar naik sebesar 14 persen. Yakni dari Rp 39.233 menjadi Rp 45.553 atau naik Rp 6.300 per kilogramnya. Dibandingkan sebelumnya, kenaikannya hanya 8 persen atau Rp 3.183 per kilogramnya.
Cabai rawit hijau naik 13 persen. Yakni dari Rp 19.283 menjadi Rp 22.050 atau naik sebesar Rp 2.767 per kilogramnya.
Cabai merah keriting naik 4 persen dari Rp 36.000 menjadi Rp 37.483 atau naik sebesar Rp 1.483 per kilogramnya.
Kenaikan cabai ini diduga terjadi lantaran pasokan ke pasar semakin menurun. Padahal pada pekan ketiga Desember ini, tinggal menghitung hari untuk memasuki perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
”Harganya memang sudah naik sejak beberapa hari belakangan, karena hujan tidak menentu ini membuat pasokan menurun,” ujar Ahmad, salah satu pedagang sembako di Pasar Pagesangan, kemarin.
Asisten II Setda NTB Fathul Gani mengatakan, stok pangan strategis masih aman meski terjadi kenaikan harga. Kenaikan harga beberapa komoditas memang sering terjadi ketika memasuki musim hujan.
Terutama komoditas yang rentan terhadap cuaca ini.
”Jadi harga (suka) naik kalau musim, kami pastikan ketersediaan stok pangan strategis stabil. Tapi yang perlu diantisipasi jelang Nataru itu ada di cabai, bawang merah, tomat, itu akan jadi atensi kami, apalagi sekarang musim penghujan,” jelasnya.
Dirinya memastikan Pemprov NTB akan terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk tetap memerhatikan stok pangan strategis jelang Nataru.
Hal ini dilakukan untuk menghindari stok pangan NTB dikirim ke luar daerah oleh para petani atau pengepul, dengan harga yang lebih menjanjikan. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida