LombokPost – Selain surganya bagi para pendaki, Rinjani juga menjelma menjadi magnet pencinta kopi berkualitas. Di Desa Bumbung, ada produknya bernama kopi arabika lunaco.
Kata lunaco berasal dari akronim Sembalun Agro Coffee, dibudidayakan oleh Kelompok Tani Kopi Lunaco. Didirikan pada tahun 2022, Lunaco awalnya hanyalah sebuah mimpi kecil di tengah berbagai keterbatasan.
Ketua Kelompok Tani Kopi Lunaco Sulman mengenang masa-masa awal saat mereka menanam kopi dengan modal seadanya. Saat itu kelompoknya hanya beranggotakan beberapa orang, petani lain masih fokus pada tanaman hortikultura.
Baca Juga: Permintaan Mutiara Lombok di Pasar Global Meningkat di Tengah Gejolak Kurs Rupiah
Perlahan kerja kerasnya membuahkan hasil manis. Terutama ketika Pertamina hadir mengucurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) pada 2023.
“Kami sadar, menanam kopi itu butuh kesabaran. Tapi hasilnya lebih menjanjikan dan ramah lingkungan,” ujar Sulman.
Sebanyak 2.000 bibit kopi arabika disalurkan di tahun pertama. Disusul 4.000 pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Primadona Baru, Kelengkeng Organik Sukadana Dilirik Pengelola Program MBG
Pertamina juga memodernisasi lini produksi hilir petani dengan membangun greenhouse pengeringan, mesin pengupas (huller), alat penjemur modern, hingga mesin penyangrai (roasting).
Kini, kelompok tani yang mengelola lahan di ketinggian ideal 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini telah memiliki puluhan anggota aktif.
Dari tanah vulkanik subur inilah lahir berbagai varian kopi arabika Sembalun yang bernilai jual tinggi. Mulai dari kopi yang diproses natural, honey, fullwashed, hingga wine coffee.
Baca Juga: MGPA Perkuat Logistik Event Mandalika
“Wine coffee merupakan kopi hasil fermentasi satu bulan dengan cita rasa manis menyerupai anggur,” sambungnya.
Sulman menegaskan, pihaknya belajar mengolah kopi dengan cara yang benar. Dulunya petani cenderung memetik asal-asalan.
Namun sekarang kelompok tani ini mengajarkan cara panen selektif hanya buah merah pada kelompok lainnya. Itu demi menjaga standarisasi mutu kopi Sembalun di pasar.
Satu pohon kopi mampu menghasilkan sekitar dua kilogram ceri kopi. Dalam satu musim panen, mereka rata-rata menghasilkan 1 ton 2 kuintal biji kopi ceri.
Baca Juga: DLH Kota Mataram Rencanakan Tambah Insinerator Baru di APBD Perubahan
“Dengan harga Rp 20 ribu per kilo, hasilnya sekitar Rp 24 juta setiap panen, dan kami bisa panen empat kali setahun,” bebernya.
Hebatnya lagi, Lunaco juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular berkelanjutan. Mereka mengolah limbah kulit kopi menjadi pupuk organik untuk menyuburkan kembali lahan mereka.
Editor : Kimda Farida