Jika biasanya mereka akrab dengan mikroskop, lensa, dan ruang operasi yang steril, Minggu (12/4) pagi suasananya berbeda. Sebanyak 210 dokter spesialis mata yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) tampak beradu fisik di atas aspal panas Pertamina Mandalika International Circuit.
----
BUKAN untuk balapan motor, melainkan dalam ajang Reviews Mandalika Fun Run. Kegiatan ini menjadi penutup yang manis bagi rangkaian seminar nasional Regional V Integrated Eye Workshop and Symposium yang digelar di Pulau Seribu Masjid.
Matahari pagi di pesisir selatan Lombok Tengah belum terlalu menyengat ketika para dokter ini mulai memanaskan otot. Mengelilingi lintasan sepanjang 4,3 kilometer, mereka ditantang untuk menaklukkan tikungan-tikungan teknis yang biasanya hanya dilibas oleh pembalap kelas dunia seperti Marc Marquez atau Francesco Bagnaia.
Baca Juga: Absen dari Kalender ARRC 2026, ITDC Fokus Perkuat Event High-Impact di Mandalika
“Keren banget sirkuitnya. Kita benar-benar keliling dari ujung ke ujung. Banyak spot foto menarik di sepanjang lintasan,” ungkap Indah, salah satu peserta asal Malang yang tampak antusias bersama rekannya, Desy dari Mataram.
Bagi mereka, berlari di Mandalika bukan sekadar mencari keringat. Ada rasa bangga tersendiri bisa menginjakkan kaki di atas kerb bermotif tenun ikat yang ikonik itu. “Akhirnya kita finish. Seru banget. Hebat Mandalika!” seru mereka dengan napas tersengal namun wajah yang sumringah.
Dia menekankan bahwa agenda ini adalah simbol keseimbangan. Di tengah padatnya aktivitas profesional dan diskusi ilmiah yang menguras otak selama seminar, kesehatan fisik tidak boleh dikesampingkan. Gaya hidup sehat harus tetap menjadi prioritas, bahkan bagi para pengobat itu sendiri.
Baca Juga: JANGAN LEWATKAN! Tiket GT World Challenge Asia di Sirkuit Mandalika, Harga Mulai Rp 50 Ribu
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria, yang hadir dalam kesempatan tersebut mengaku bangga melihat sirkuit kebanggaan Indonesia ini kian inklusif. Menurutnya, Mandalika kini bukan lagi "menara gading" yang hanya bisa dinikmati saat ada balapan besar.
“Ini adalah bukti bahwa fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara luas. Kami ingin sirkuit ini menjadi ruang terbuka bagi komunitas untuk mendorong gaya hidup sehat dan sport tourism,” ujar Priandhi.
Saat bendera finish dikibarkan, bukan catatan waktu yang mereka cari. Kebersamaan antardokter se-Indonesia dan pengalaman menjajal aspal sirkuit kelas dunia itulah yang menjadi "obat" paling mujarab sebelum mereka kembali ke rutinitas melayani kesehatan mata masyarakat.
Mandalika sekali lagi membuktikan, ia bukan sekadar aspal dan beton, melainkan panggung bagi berbagai cerita, termasuk cerita tentang kebugaran para penjaga jendela dunia.
Editor : Akbar Sirinawa