LombokPost-Kepengurusan Palang Merah Indonesia (PMI) Lombok Barat (Lobar) yang baru mulai menunjukkan kiprahnya.
Selain sigap dalam penanganan bencana dan kegiatan kemanusiaan, kini PMI Lobar menjadi garda terdepan dalam upaya mitigasi bencana di kancah nasional.
Tak tanggung-tanggung, mereka menggandeng unit palang merah dari negara-negara Eropa dalam pilot project pengurangan risiko bencana dan dampak perubahan iklim.
Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Humas PMI Lobar Samsul menjelaskank, pihaknya berupaya maksimal membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar.
”Kami juga bantu pemkab dalam kegiatan mitigasi di Lobar,” ujarnya.
Proyek percontohan berskala nasional ini rencananya akan digulirkan pada Oktober mendatang. Ada tiga desa di Lobar yang akan menjadi lokus kegiatan mitigasi bencana ini, yakni Eyat Mayang, Sekotong Timur, dan Sekotong Tengah.
Ketiga desa tersebut saat ini sedang dalam proses asesmen. Uniknya, penunjukan lokasi desa ini bukan atas inisiatif PMI Lobar, melainkan langsung dari pusat dan palang merah negara Eropa, menunjukkan kepedulian mereka terhadap perubahan iklim global.
”Kegiatan yang dipusatkan PMI Lobar ini merupakan contoh nasional atau pilot project satu-satunya di Indonesia,” tegas Samsul.
Ia menambahkan, palang merah dari negara-negara Eropa tersebut tidak akan menggelar kegiatan serupa di daerah lain selain di Lobar.
Informasi terakhir menyebutkan, dari 25 negara yang semula terlibat, kini ada 18 negara Eropa yang akan ambil bagian.
”Dan informasi awal yang kami terima dari Jakarta, akan datang bersama menteri investasinya. Karena mereka berkepentingan terkait perubahan iklim ini,” imbuhnya.
Di luar proyek besar ini, PMI Lobar juga tetap aktif dalam berbagai program kesehatan masyarakat. Mereka turut mendukung pemda dalam penanganan malaria melalui program Gerebek Malaria, serta menangani kasus demam berdarah dengue (DBD) dan HIV/AIDS.
Tak hanya itu, PMI Lobar juga sigap membantu penanganan kekeringan dengan mendistribusikan air bersih ke daerah-daerah terdampak di wilayah Lobar.
Editor : Akbar Sirinawa