LombokPost — Di tengah dinamisnya tren hobi burung berkicau, Komunitas Kenari Nusa Tenggara Barat (KKN NTB) berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu wadah pecinta burung kenari yang paling aktif di Pulau Lombok dan NTB pada umumnya.
Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga pendorong roda ekonomi bagi para peternak dan pedagang lokal.
Ketua KKN NTB Wahyu Mahardika menceritakan, komunitas ini terbentuk secara spontan pada akhir November 2024. "Pada awalnya, pergerakan ini diinisiasi oleh hanya delapan orang," bukanya.
Pria yang juga mengawali hobinya sebagai peternak kenari ini merasa gelisah karena minimnya kelas perlombaan kenari pada saat itu, yang biasanya hanya diikuti oleh 4 hingga 5 peserta saja. Minimnya ruang kompetisi ini berdampak langsung pada lambatnya perputaran penjualan burung kenari.
Baca Juga: Saat Musim Lomba, Pakan dan Sangkar Laris Manis, Pecinta Burung Bawa Multiplier Effect
"Kami membentuk komunitas ini agar kenari di NTB setidaknya bisa bersaing dan menyamai popularitas burung murai. Kami ingin setiap gantangan (arena lomba) bisa penuh, dan yang terpenting, penjualan teman-teman peternak serta bakul kenari bisa lancar," ujar Wahyu yang merupakan pegawai Dinas Sosial NTB ini.
Sejak pembentukan tersebut, Wahyu dipercaya oleh rekan-rekannya untuk mengkoordinasi komunitas ini hingga berkembang pesat dan kini memiliki sekitar 80 anggota aktif.
Untuk menjaga kekompakan, KKN NTB rutin menggelar Kopi Darat (Kopdar) sebulan sekali. Pertemuan ini biasa dilaksanakan di Gedung Bulu Tangkis Kantor Dinas Sosial NTB, tempat di mana Wahyu juga sehari-hari bekerja.
Baca Juga: Beternak Murai Batu Lebih Cuan dan Menantang
Setiap kali Kopdar digelar, para anggota wajib membawa burung kenari mereka. Acara tidak hanya diisi dengan obrolan santai, tetapi juga langsung dikombinasikan dengan latihan bersama (Latber) dan lomba tipis-tipis berhadiah menarik dengan mendatangkan juri dari luar komunitas demi menjaga objektivitas.
Selain itu, Kopdar ini juga berfungsi sebagai pasar bursa. Komunitas menyediakan ruang bagi para anggotanya untuk melakukan transaksi jual-beli atau menjodohkan pembeli potensial dengan peternak secara langsung di lokasi.
Meski tergolong komunitas yang tumbuh secara organik, taji KKN NTB tidak bisa diremehkan. Pada Agustus 2025 lalu, komunitas ini sukses menggelar ajang bergengsi Gubernur Cup.
Event berskala besar ini berhasil menarik perhatian para penghobi kenari dari luar daerah. Peserta dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali turut hadir memeriahkan kompetisi tersebut.
Antusiasme peserta dari Pulau Jawa dan Bali tetap luar biasa dan sukses mengangkat nama NTB di kancah nasional.
Melalui konsistensi Kopdar bulanan dan kompetisi, KKN NTB terus membuktikan bahwa sinergi antara hobi dan pemberdayaan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan demi kelestarian dan kejayaan kenari di bumi gora.
Editor : Jelo Sangaji