-------------------------------------
“KEBETULAN saya ada teman di Australia, saya minta bantuannya mempromosikan pupuk cair ini,” kata Agus Pramono yang juga menjadi Penyuluh Perikanan di Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Mataram.
Sejauh ini, limbah cair pengolahan ikan pindang menjadi masalah serius. Tidak hanya bau yang menyengat, namun juga mengganggu kesehatan warga. Tapi di tangan Agus, limbah ini dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomis. “Kita minta air ikan di pedagang,” tutur Agus, sapaan karibnya.
Pupuk yang diproduksi dari bahan baku air pindang ini tidak butuh modal besar. Air pindang yang biasanya dibuang warga, bisa diminta kapan pun. Biasanya, kata dia, air pindang yang diminta di pedagang sudah mengandung garam, bahkan bisa mengeras menjadi garam. “Ini sangat baik untuk tanaman,” singkat dia.
Agus membuat pupuk organik dari limbah didasari karena banyak petani menggunakan pupuk kimia. Padahal dampak dari penggunaan pupuk ini akan menurunkan kandungan bahan organik pada tanah. Akibatnya struktur tanah menjadi lebih keras karena berkurangnya bakteri-bakteri pengurai yang ada dalam tanah.
“Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kurang maksimal, khususnya tanaman hortikultura seperti bawang merah, tomat maupun cabe,” tutur dia.
Tak hanya itu, mindset petani pada umumnya ingin mendapatkan hasil yang instan dengan menambahkan dosis pupuk dengan tujuan mempercepat pertumbuhan maupun meningkatkan hasil panen. “Kesuburan tanah ini akan terganggu jika berlebihan menggunakan pupuk kimia,” kata dia.
Menurutnya, jika menggunakan pupuk organik, maka kesuburan tanah akan tetap terjaga. Menurutnya, pupuk yang diproduksinya ini akan menyuburkan tanaman. Karena air garam akan mempercepat masuk melalui akar yang nantinya menjadi protein bagi tanaman. “Ini akan cepat menyuburkan tanaman,” cetus dia.
Agus melihat limbah ikan dibuang begitu saja oleh para pedagang dan nelayan. Dari sana dia tergerak mencoba membuat pupuk berbahan dasar limbah ikan tongkol yang difermentasikan dengan bahan fermentor dan bahan lainnya untuk dijadikan pupuk organik cair. Sehingga mengembalikan kesuburan tanah dan memaksimalkan penyerapan unsur hara oleh tanaman. “Pupuk ini sudah saya coba di beberapa kolompok tani,” ujar Agus.
Tak hanya itu, pupuk ini juga dibagikan kepada para tetangga dan pengurus masjid. Dia menyebutkan, pupuk ini juga sudah diberikan kepada pengelola Islamic Centre untuk memupuk pohon kurma yang ada di sana. Hasilnya, dia mendapat informasi pohon kurma tersebut sudah berbuah. “Pada prinsipnya semua tanaman bisa berbuah,” trang dia.
Untuk pembuatan pupuk ini cukup sederhana. Tinggal mencampurkan limbah ikan dengan gula dan bahan lainnya untuk mempercepat permentasi. “Bau pupuk mirip tape,” cetus dia.
Untuk pemasaran pupuk organik masih terbatas. Sebagai seorang penyuluh perikanan dia memiliki tugas pokok. Jadi, pupuk hasil produksinya diberikan dulu di berbagai kelompok tani di Kota Mataram. “Ada dua kelompok tani yang sudah coba pupuk ini,” ujar dia.
Kendati demikian dia juga memasarkan produk pupuk ini melalui WhatsApp Grup (WAG) penyuluh perikanan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dia juga meminta bantuan temannya yang ada di Australia mempromosikan pupuk yang bisa menyuburkan tanaman hortikultura ini. Untuk harga pupuk ini cukup murah. Satu botol yang isinya 600 mililiter dibannderol Rp 5 ribu. (Ali Rojai/r3) Editor : Administrator