Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TPST Sandubaya Belum Bisa Diandalkan, Solusinya Apa?

nur cahaya • Minggu, 20 April 2025 | 22:30 WIB

 

SUDAH MAKSIMAL: Kondisi TPAR Kebon Kongok di Lombok Barat yang semakin sesak menampung sampah dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.
SUDAH MAKSIMAL: Kondisi TPAR Kebon Kongok di Lombok Barat yang semakin sesak menampung sampah dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.
 

LombokPost-Sejak 17 April lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram dibatasi dalam membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Biasanya, Pemkot bisa membuang sampah hingga tiga ritase per hari.

“Nah, jadinya yang dua ritase ini, ke mana kita akan buang. Itu yang menjadi pertanyaan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi kepada Lombok Post.

Diketahui, TPAR Kebon Kongok saat ini hanya mengandalkan area landfill seluas 20 are yang kian menyempit. Akibatnya, aktivitas pembuangan sampah dibatasi. Truk yang biasanya membuang tiga kali sehari, kini hanya diizinkan sekali.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat, sebagai dua wilayah yang bergantung pada TPAR Kebon Kongok. Saat ini, Pemkot Mataram tengah mencari lahan alternatif untuk pembuangan sementara.

Photo
Photo

“Masih dicari lokasinya. Masih dicari solusinya. Insyaallah seminggu ini sudah ada,” harapnya.

Denny mengaku belum ada kepastian sampai kapan pembatasan pembuangan sampah ke TPAR diberlakukan. Untuk sementara, sampah disimpan di TPST Sandubaya.

“Di situ kita simpan dulu. Kalau itu sudah penuh, baru kita alihkan ke tempat lain,” terangnya.

Jika TPAR benar-benar penuh, maka ritase satu kali pun tidak bisa dilakukan. Padahal, satu ritase setara dengan satu truk dam berisi tiga hingga empat ton sampah.

“Dua dam saja sudah delapan ton. Dikalikan per minggu, itu yang akan mengendap. Makanya kita harus cari solusi ke tempat lain,” ucapnya.

Untuk menekan potensi endapan sampah, Denny menyebut TPST Sandubaya tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Ia khawatir, jika TPST dipaksa mengolah semua sampah, kemampuan mesin tidak akan mampu menanggung beban.

“Takutnya jebol. Malah kita susah lagi kalau jebol dan beroperasi terus 24 jam. Kemudian mau dibuang ke mana? Bingung juga. Kami belum bisa spekulasi mesin itu bisa bekerja keras,” jelasnya.

Ia tak menampik, TPAR Kebon Kongok sudah beberapa kali menghentikan operasional. Namun sebelumnya, penutupan tidak berlangsung lama. Kali ini, diprediksi akan lebih lama. “Ya, khawatir juga kita,” cemasnya.

Secara terpisah, Camat Ampenan Muzakkir Walad mengatakan pihaknya diminta memaksimalkan pengelolaan TPST Sandubaya. Ia juga mendorong percepatan pembangunan TPST Kebon Talo.

“Kemudian bisa menjadi solusi menangani masalah sampah di Sekarbela dan Ampenan kalau sudah jadi,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya aktif mengedukasi masyarakat soal pemilahan sampah. Beberapa wilayah seperti Pejeruk hingga Ampenan Tengah juga diminta tidak membuang sampah ke kali.

“Jadi jam 6 sudah diangkut oleh petugas yang mobile,” tandasnya. (chi/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#sampah #petugas #Sandubaya #tpst #kebon kongok