Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ramadan 2026 Bakal Beda Lagi? Matematikawan ITB Bongkar Rumus Trigonometri di Balik 'Sakti'nya Hilal dan Hisab!

Nurul Hidayati • Selasa, 17 Februari 2026 | 14:11 WIB
Melalui akun Facebook-nya, matematikawan asal ITB, Alif Towew, memberikan ulasan mendalam mengenai aspek ilmiah dan matematis di balik penentuan bulan suci umat Islam tersebut.
Melalui akun Facebook-nya, matematikawan asal ITB, Alif Towew, memberikan ulasan mendalam mengenai aspek ilmiah dan matematis di balik penentuan bulan suci umat Islam tersebut.

LombokPost - Perdebatan mengenai potensi perbedaan tanggal 1 Ramadan kembali mencuat menjelang tahun 2026.

Melalui akun Facebook-nya, matematikawan asal ITB, Alif Towew, memberikan ulasan mendalam mengenai aspek ilmiah dan matematis di balik penentuan bulan suci umat Islam tersebut.

Menurutnya, perbedaan ini bukanlah masalah, melainkan bukti luasnya cakrawala ilmu dalam Islam.

Dua Metode: Matematika vs Observasi

Alif menjelaskan bahwa perbedaan muncul karena adanya dua metode utama yang digunakan di Indonesia.

Metode Hisab (Muhammadiyah):Mengandalkan perhitungan matematis murni menggunakan astronomi.

Selama posisi bulan sudah berada di atas ufuk (0 derajat) saat Maghrib setelah konjungsi (ijtimak), maka esoknya dianggap bulan baru.

Metode ini tidak terpengaruh oleh cuaca karena berbasis hitungan angka.

Metode Rukyatul Hilal (NU & Kemenag): Mengandalkan observasi optik langsung di lapangan. Terpengaruh faktor cuaca. Jika ufuk tertutup awan, hilal tidak akan terlihat.

Sejak tahun 2022, kriteria yang digunakan lebih ketat (MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Jika tertutup awan, bulan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Rumus Trigonometri di Balik Hilal

Sebagai seorang ahli matematika, Alif menunjukkan bahwa penentuan posisi bulan melibatkan rumus Trigonometri Bola yang kompleks.

Dengan memasukkan variabel lintang pengamat dan deklinasi bulan, posisi pasti Hilal dapat diprediksi secara akurat.

"Secara matematika, saja sudah bisa masuk 1 Ramadan. Namun, secara observasi optik, kriteria baru mengharuskan lebih dari 3 derajat karena di bawah itu hilal sangat sulit dideteksi," jelas Alif.

Sidang Isbat: Penentu Akhir

Data dari 120 titik pengamatan dari Aceh hingga Papua akan dikirim ke Jakarta untuk disidangkan dalam Sidang Isbat.

Di sana, hasil observasi lapangan akan dikonfrontasi dengan data hisab untuk memastikan apakah posisi bulan sudah memenuhi syarat 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Alif menutup ulasannya dengan menekankan bahwa perbedaan metode ini adalah bagian dari keindahan Islam. "Di sinilah letak indahnya Islam dengan luasnya ilmu," pungkasnya.

Perbedaan metode adalah hal yang lumrah dalam khazanah keilmuan Islam.

Editor : Kimda Farida
#hisab #ramadan #muhammadiyah #Kemenag #NU #rukyatul hilal