LombokPost-Petani di NTB mulai melakukan panen raya padi secara serentak sepanjang April ini. Luas lahan panen mencapai 310 ribu hektare dengan proyeksi hasil lebih dari 900 ribu ton gabah kering panen (GKP).
Perum Bulog NTB menyatakan siap menyerap gabah petani secara maksimal. "Bulog NTB secara khusus ditugaskan menyerap 180.600 ton setara beras selama 2025 ini," kata Pemimpin Wilayah Bulog NTB Sri Muniati kepada Lombok Post, Selasa (8/4).
Selama panen raya April, Bulog ditargetkan menyerap 56.800 ton GKP. Hingga kini, sudah terserap 49 ribu ton dari petani. Jumlah itu melampaui target awal dari pusat sebanyak 18.944 ton. "Karena tingginya serapan, kantor pusat memberi penyesuaian. Sehingga kami diminta menyerap 56.800 ton GKP pada puncak panen raya ini," jelas Imung, sapaan karib Sri Muniati.
Untuk memaksimalkan serapan, Bulog menurunkan tim jemput gabah ke sawah. Selain dari Kanwil NTB, tim juga berasal dari Bulog Cabang Lombok Timur, Bima, dan Sumbawa. Ketiga cabang tersebut membawahi seluruh kabupaten/kota di NTB. "Kurang lebih ada 15 tim jemput gabah kami turunkan," ujar Imung.
Tim ini bekerja sama dengan Babinsa TNI dan petugas penyuluh lapangan (PPL) tingkat kecamatan dan desa. Babinsa dan PPL memberikan informasi waktu panen, lalu tim Bulog langsung menuju lokasi untuk membeli gabah petani.
Harga beli gabah sesuai instruksi Presiden, yakni Rp 6.500 per kilogram atau Rp 650 ribu per kuintal. Harga ini disambut antusias petani. Banyak yang langsung menjual gabah usai dipanen agar bisa mendapatkan manfaat optimal dari program pemerintah.
"Kami pastikan gabah yang diserap Bulog adalah yang siap panen dan berkualitas baik. Karena nantinya akan diolah dan disalurkan kembali ke masyarakat NTB," terang Sri Muniati.
Kepala Dinas Pertanian dan Perdagangan NTB Muhammad Taufieq Hidayat optimis Bulog mampu menyerap gabah petani secara maksimal tahun ini. Pemprov juga terus berkoordinasi agar hasil produksi petani terserap lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. "Yang terpenting juga, harga acuan pemerintah Rp 6.500 per kilogram harus diterapkan. Jangan sampai membeli di bawah harga itu," kata Taufieq.
Pemprov menyambut baik penugasan Bulog NTB untuk meningkatkan daya serap hingga 180.600 ton setara beras. Jumlah itu meningkat 100 persen dari tahun lalu. Pada 2024, Bulog hanya ditugaskan menyerap 75 ribu ton, dan realisasinya sekitar 60 ribu ton. "Ini kabar baik bagi petani NTB. Semoga serapan bisa maksimal," tandas Taufieq. (mar/r7)
Editor : Jelo Sangaji