LombokPost — Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dianugerahi gelar Manggala Bumi oleh majelis Adat Sasak (MAS). Gelar tersebut diberikan kepada sosok pemimpin yang mengayomi, menggerakkan, dan menjaga tanah dan seluruh masyarakat.
Penyematan gelar tersebut ditandai dengan sembek (goresan di dahi menggunakan campuran sirih dan pinang) dan pemberian keris oleh para sesepuh MAS pada acara Festival Lombok Mirah Sasak Adi dan Milad Ke-30 MAS yang digelar di Golong, Narmada, Lobar Rabu (10/12).
Penghargaan tersebut sekaligus sebagai simbol pengakuan dari masyarakat Sasak kepada Gubernur L Muhamad Iqbal dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, gelar tersebut adalah sebuah kehormatan dan amanah dari para penglingsir masyarakat Sasak di NTB.
“(Gelar) ini adalah amanah yang diberikan kepada saya untuk mengayomi seluruh masyarakat NTB. Bahkan menjadi pemimpin bagi seluruh alam,” katanya.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan telah telah mendapat kepercayaan dari masyarakat Sasak untuk menjadi pemimpin bagi semua. Bangsa Sasak diamanahkan untuk lahir dan besar di Pulau Lombok.
“Dengan segala kelebihan yang dimiliki pulau ini, dibutuhkan kombinasi karakter yang kuat dan kompleks untuk menjaga dan memeliharanya," katanya.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan, gelar tersebut bukan sekadar pengormatan. Namun simbol tanggung jawab moral untuk menjadi pemimpin bagi seluruh masyarakat NTB.
“NTB adalah rumah bagi semua orang, berbagai agama dan berbagai suku. Kita jalan bersama untuk mewujudkan NTB Makmur Mendunia,” katanya.
Gubernur Miq Iqbal menambahkan, dalam tradisi Sasak, setidaknya ada tiga kata yang harus dipegang. Yakni tindih, maliq, dan merang.
Tindih berarti jujur, ikhlas serta berintegritas. Maliq diartikan sebagai seseorang yang hidup dalam tatanan, norma, nilai, dan aturan agama.
Sifat sejati masyarakat Sasak adalah rela berkorban untuk menjaga tatanan. “Kepentingan pribadi gugur demi kepentingan kolektif. Orang sasak tidak akan mengorbankan kepentingan kolektif untuk sesuap nasi," katanya.
Sementara Merang, kata Gubernur Miq Iqbal diartikan bahwa masyarakat Sasak harus tetap rendah hati tapi menolak untuk direndahkan. Diam dan tenang tapi bukan berarti tidak tahu apalagi bodoh. Pemaaf tapi bukan berarti tidak berhitung.
“Merang juga berarti bahwa dalam karakter sejatinya, orang Sasak akan bersama-sama menjaga apa yang mereka yakini benar,” katanya.
Gubernur Miq Iqbal berharap, ke depan, budaya Sasak bisa lebih inklusif. Masyarakat Sasak bisa bergandengan tangan untuk menuntaskan kemiskinan dan kebodohan.
Pengerakse Agung MAS Lalu Sajim Sastrawan mengatakan, penghargaan yang diberikan kepada Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal merupakan sebuah amanah tertinggi masyarakat Sasak.
“Penghargaan ini bermakna bahwa di dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan ke masyarakat kami para sesepuh majelis adat Sasak dengan ikhlas, tulus serta lurus memberikan anugerah tersebut," kata Lalu Sajim.
Lalu Sajim berpesan agar gelar Manggala Bumi yang diberikan dijadikan sebagai pegangan sekaligus sebagai penambah semangat bagi L Muhamad Iqbal untuk memimpin Provinsi NTB.
“Kami berharap dengan penghargaan ini, Gubernur L Muhamad Iqbal bisa mewujudkan masyarakat NTB yang adil, makmur, dan sejahtera,” katanya.
Menurut Lalu Sajim, masyarakat NTB meletakkan harapannya kepada Gubernur Lalu Muhamad Iqbal untuk selalu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana terhadap semua masyarakat.
Termasuk bagaimana menuntaskan sejumlah persoalan yang masih dialami masyarakat. Seperti stunting, kemiskinan ekstrem, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. (lil)
Editor : Siti Aeny Maryam