LombokPost - Menjelang hari raya Idul Fitri, ketersediaan pasokan pangan menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter dan pemerintah daerah.
Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melakukan aksi nyata bersama dengan pengecekan salah satu komoditas cabai di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan.
Langkah ini dinilai strategis mengingat cabai rawit merupakan salah satu komoditas utama penyumbang inflasi di Nusa Tenggara Barat.
Hario menjelaskan bahwa berdasarkan hukum ekonomi, lonjakan permintaan saat Ramadan dan Lebaran harus diimbangi dengan pasokan yang cukup agar harga tetap stabil.
Menurutnya masyarakat NTB, khususnya di Pulau Lombok, merasa makan kurang nikmat tanpa rasa pedas dari cabai rawit.
Melalui panen di lahan seluas 5,5 hektar di Desa Akar-Akar ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal.
"Sehingga harga yang sempat bergejolak bisa berangsur stabil," ujar Hario.
Hario menambahkan bahwa BI tidak bekerja sendiri.
Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pihaknya telah melakukan pemetaan sejak Februari lalu.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa mayoritas sentra cabai di NTB baru akan memasuki masa panen raya pada paruh kedua Ramadan.
Oleh karena itu, panen di Desa Akar-Akar menjadi tumpuan penting untuk mengisi kekosongan pasokan di paruh pertama bulan suci ini.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (KP3) Lombok Utara, Tresna Hadi, yang mewakili Bupati Lombok Utara, mengungkapkan bahwa harga cabai rawit di Pasar Tanjung sempat menyentuh angka Rp90.000 per kilogram.
Inflasi ini harus dikendalikan bersama. Pihaknya sangat mengapresiasi langkah Desa Akar-Akar yang mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan, khususnya cabai.
"Pemerintah daerah juga terus mendorong program Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk membantu masyarakat mendapatkan harga di bawah pasar," jelas Tresna Hadi.
Selain panen bersama, pemerintah juga terus menggalakkan program pemanfaatan lahan pekarangan bagi masyarakat.
Diharapkan dengan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan para petani, stabilitas harga pangan di NTB dapat terjaga hingga hari kemenangan tiba.
Editor : Kimda Farida